Selfie di Baiturrahman

Aceh dikenal dengan Serambi Mekkah karena masyarakatnya yang kuat memeluk nilai-nilai Islam. Propinsi ini memiliki penganut Islam terbanyak di Indonesia. Setiap orang yang berkunjung ke Aceh tidak lupa untuk berkunjung ke situs kejayaan Islam terbesar yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Baiturrahman merupakan tempat ibadah yang paling diminati sampai seluruh penjuru nusantara, bahkan hingga ke luar negeri. Minat itu semakin meningkat seiring dengan Baiturrahman yang juga sudah mulai berdandan. Baiturrahman sudah direnovasi laksana Mesjid Nabawi dengan payung-payung besar yang berdiri mengelilinginya.

Dulunya Baiturrahman ini adalah sebuah Mesjid Kesultanan Aceh yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Baiturrahman menjadi landscape yang dikenal sebagai Jantung Kota Banda Aceh.

Namun saat ini gambaran orang akan Baiturrahman mulai bergeser. Dahulu setiap orang bertujuan ibadah setiap kali ke Mesjid Raya sedangkan saat ini tujuannya lebih pada keingiann menikmati keindahannya sambil ber-selfie ria. Kalangan muda-mudi khususnya ber-selfie ria untuk eksis di media sosial saja. Masyarakat jadi latah dan lupa tentang etika berada di tempat beribadah. Dulu pengunjung lebih memperhatikan nilai-nilai keagamaan yang terkadung, dan mengabadikan setiap moment di Baiturrahman dalam bentuk potret keluarga.

Saat ini selfie memang sudah menjadi tren tersendiri bagi kalangan masyarakat tanp melihat usia. Selfie sudah menjadi budaya baru yang menggerus budaya lama. Bayangkan banyak pengunjung yang rela selfie di bawah terik matahari, hal mana menjurus kepada gangguan mental (exhibitionist).

Menurut Teori Eksistensial (Rollo May) perilaku diatas lebih menjurus pada penyakit masyarakat modern. Dimana masyarakat modern selalu ingin terlihat dirinya terhubung dengan dunia yang lebih luas dengan cara selfie. Kegagalan mengembangkan eksistensi ini akan berdampak pada munculnya kecemasan, merasa diri tidak dianggap, kesepian hampa.

Kebebasan sudah kebablasan. Pada satu sisi kita memiliki kebanggaan pada Baiturrahman sebagai situs relijio-histori, pada sisi yang lain kita memiliki nilai keagamaan tinggi dan pada sisi lain juga memiliki hasrat untuk eksis di depan orang lain. Seyogyanya ketiga komponen ini mendapat porsi yang berimbang. Khawatirnya, selfie yang berlebihan berpotensi menghilangkan karamah dari nilai dan budaya sebelumnya.

Bahan Bacaan

Feis, J., & Feist, G. J. (2016). Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika

Elva Winda (Mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org
Skip to toolbar