Tarawih di Warung Kopi

Istilah ngopi sudah menjadi kosa kata klise di Aceh karena sering kali muncul dalam pembicaraan di kalangan pelajar, pengajar, dan masyarakat umum. Kosakata ini muncul hampir sama banyaknya dengan istilah makan, minum, dan agama. Istilah ngopi telah merubah paradigma masyarakat dimana istilah ngeteh, ngemil hingga rekreasi telah tersubordinasikan dan dianggap telah diwakili oleh satu kata yaitu “ngopi”

Pada sisi lain, Aceh juga merupakan daerah istimewa yang menjalankan praktek-praktek syariat Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Mendengar kata Aceh para pendatang yang berlibur ke Aceh mengenakan hijab. Bagaimana tidak, Aceh sudah dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah oleh dunia luar baik itu dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya situs wisata religi yang terdapat di Aceh adalah Masjid Raya Baiturrahman. Setiap pengunjung yang datang ke Aceh pasti akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Mesjid Baiturrahman, bangunan yang selamat dari terjangan tsunami yang meluluh lantakan Aceh.

Disela-sela wacana kopi dan wisata religi itu, kita juga mendengar tentang penegakan syariat Islam di Aceh yang belum utuh. Tentunya penegakan syariat Islam tidak bisa dipaksakan karena Islam pun masuk ke Aceh tidak ada pemaksaan. Islam itu keikhlasan karena seseorang yang ikhlas dalam melaksanakan sesuatu, maka dia akan melakukannya dengan sepenuh hati.

Seorang yang menganut ajaran Islam benar-benar karena Allah akan berbeda dengan mereka yang penganut Islam KTP. Seorang muslim karena Allah dalam melaksanakan kewajibannya, dia akan terus mencari tahu mengenai Islam, dan tentunya akan melakukan semuanya dengan keikhlasan. Berbeda halnya dengan Muslim KTP, kebanyakan dari mereka seperti tidak ada rasa ingin tahu mengenai Islam karena yang mereka tahu aku adalah Islam dan aku keturunan orang islam, walaupun dalam pelaksaan syariat Islam sehari-hari hampir jauh dari kata Islam itu sendiri.

Selain wisata religi, Kopi di Aceh seperti telah menjadi wisata yang sudah dikenal sampai ke Eropa. Aceh merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia khususnya di dataran tinggi Gayo. Bagi masyarakat Aceh sendiri minum kopi sudah menjadi kebiasaan bahkan menjadi kebudayaan yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman saking banyaknya warung kopi. Aceh pun diberi julukan kota seribu warung kopi, karena hampir setiap tempat di Aceh kita akan menemukan warung kopi.

Kebudayaan minum kopi sendiri sudah menjadi peninggalan dari leluhur. Minum kopi sudah ada sejak dulu khususnya di kalangan masyarakat dataran tinggi Gayo yang kebanyakan masyarakatnya adalah petani kopi. Warung kopi sudah ada dari dulu jauh sebelum warung kopi semakin berkembang pesat di Aceh. Bagi masyarakat Aceh sendiri minum kopi sudah menjadi kebiasaan setiap habis makan. Sama halnya dengan syariat Islam, masyarakat Aceh yang umumnya menganut agama Islam sudah pasti akan menjumpai banyak tempat peribadatan di setiap desa. Namun semuanya sungguh disayangkan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini masyarakat Aceh sendiri lebih memilih ke warung kopi dibandingkan ke masjid untuk melaksanakan shalat sunah tarawih yang cuma ada sebulan sekali. Seperti tidak ada rasa bersalah dari masyarakat Aceh sendiri. Sebagai masyarakat yang penduduknya dominan Islam seharusnya kita memperhatikan masalah ibadah, karena nilai religi yang satu ini selalu kita lakukan dalam keseharian kita.

Menurut Watson –psikolog berlairan behaviorisme—manusia adalah produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar merupakan hasil dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian manusia. Artinya bermanfaat atau tidaknya aktivitas seseorang sangat tergantung dari lingkungan mana dia berasal dan apa tujuannya duduk di warung kopi. Ada yang positif dari duduk di warung kopi seperti mengerjakan tugas bagi mahasiswa, tempat transaksi jual beli, diskusi dan berbagai jenis keperluan dan bisnis lainnya. Namun ada juga yang ke warung kopi sekedar menghabiskan waktu secara percuma tanpa ada manfaatnya inilah yang membuat citra warung kopi di Aceh menjadi buruk di mata publik.

Penurunan animo masyarakat aceh untuk melaksanakan ibadah ke masjid sendiri juga dipengaruhi oleh kebudayaan luar. Terutama dibidang teknologi inilah faktor yang sangat mempengaruhi kebudayaan masyarakat Aceh. Yang membuat warung kopi semakin ramai dikunjungi oleh masyarakat adalah karena mencari internet gratis. Dulu yang pergi ke warung kopi kebanyakan kaum adam akan sangat sulit bagi kita melihat perempuan duduk di warung kopi. Namun sekarang perempuan pun sudah terbiasa duduk di warung kopi. Faktor utama yang membuat perempuan betah duduk di warung kopi salah satunya adalah desain arsitektur. Arsitektur atau gaya warung kopi yang semakin modern menjadikan banyak masyarakat Aceh khususnya perempuan pergi ke warung kopi. Jadi tidak heran kalau kita semakin banyak melihat masyarakat yang semakin ramai di warung kopi.

Pada bulan Ramadhan tahun ini khususnya di masjid raya Baiturrahman, masyarakat Aceh berbondong-bondong pergi beribadah juga karena pengaruh gaya arsitektur masjid raya yang sekarang sudah mempunyai payung yang menyerupai masjid Nabawi di Madinah. Selain beribadah, masyarakat pergi ke Mesjid Baiturrahman juga untuk selfie, sebuah kebiasaan baru yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Lagi-lagi budaya selfie tumbuh karena didukung oleh kemajuan tekhnologi.

Aceh mempunyai banyak pesantren, masjid, musholla, maupun warung kopi. Semua itu sudah menjadi warisan dari leluhur kita. Tidak perlu ada yang disalahkan dari semua itu, tetapi Aceh membutuhkan pembenahan yang signifikan sehingga syariat Islam dan wisata yang sudah menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetap ada dan tidak mempengaruhi jalannya syariat Islam di Aceh. Menjadi tuntutan bagi kita untuk terus menjaga segala budaya yang telah diwariskan oleh leluhur kita dengan tetap menempatkan Islam sebagai landasan yang paling kokoh dan mendasar.

Firas Mahdani (Mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

4 comments

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org