Aceh Maju dengan Budaya Kondusif

Karakter manusia yang memiliki nilai-nilai spiritualitas, beretika, humanis dan realistis dalam mengantisipasi perkembangan zaman, merupakan nilai-nilai profesionalisme kemanusiaan yang sangat positif dan sangat perlu untuk terus ditumbuhkembangkan. Bahkan nilai-nilai karakteristik yang bersifat akhlakul karimah itu, sangat penting untuk mendukung kemajuan suatu bangsa atau negara. Karena ia dapat menciptakan suatu gerakan kebudayaan yang bernilai kondusif bagi percepatan pembangunan ekonomi dan politik suatu bangsa dan negara.

Kemajuan cepat masyarakat negara maju dalam situasi jangka panjang, juga sangat didukung oleh adanya suatu budaya kondusif yang berkembang secara harmonis dan berkelanjutan di negara tersebut. Kemudian, pemerintahan di negara-negara maju umumnya berusaha mengadopsi nilai-nilai budaya kondusif dari berbagai kultur masyarakat secara sisstematis dan terorganisir dengan baik. Meskipun dalam batas-batas tertentu —-tidak berusaha menampilkan simbol-simbol budaya eksternal dari negara itu secara lebih menonjol tampilannya secara fisik—-dibandingkan nilai-nilai kebudayaan masyarakat setempat.

Namun adanya pengembangan nilai-nilai kebudayaan yang bersifat kondusif (cinta damai) itu, secara akumulatif terbukti telah dapat mempercepat kemajuan perekonomian masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan di sejumlah negara maju; seperti di Denmark, Norwegia, Finlandia, Swedia, Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya. Selanjutnya, perpaduan budaya bernilai brillian ini juga dapat pula merangsang tumbuhnya karakter masayarakat yang berkreativitas dan berproduktivitas tinggi. Kondisi itu muncul, karena masyarakat memiliki ruang publik yang lebih mudah dan lebih bebas untuk berproduksi atau berkreativitas.

Syarat terpenting, tentu saja dalam ha ini negara tak boleh bersifat mengekang atau ‘memasung kebebasan’ mengembangkan budaya kondusif yang muncul secara cerdas dari rakyat. Tak boleh ada tekanan — atau ‘intimidasi’— ataupun praktik arogansi dari pemegang kekuasaan. Karena hal ini bisa menghambat masyarakat untuk memanfaatkan waktunya untuk dapat meraih masa depan lebih baik.

Masyarakat atau rakyat secara total perlu diberi kesempatan maksimal untuk dapat menikmati proses belajar, bekerja, berproduksi secara profesional. Karena, setiap proses kreativitas sosial ini memiliki arti penting guna menuju masyarakat yang cerdas, sejahtera, berkeadilan, bermartabat dan berwatak independen.

Ibnu Khaldun (Bapak Ekonomi Dunia), mendukung makna penting dari perlunya tercipta suasana sangat kondusif untuk dapat memajukan suatu bangsa atau negara. Penguatan nilai budaya kondusif ini sangat dipengaruhi pula oleh perkembangan nilai etika, karakter dan sikap hidup sehari-hari yang muncul di tengah-temgah masyarakat.

Ibnu Khaldun, mengajak kita untuk mendukung terwujudnya suatu masyarakat, bangsa dan negara yang maju berdasarkan nilai-nilai peradaban yang tinggi. Sehingga kondisi sosial ini dapat memajukan masyarakat, bangsa dan negara menuju taraf hidup yang lebih sejahtera dan berkeadilan.

Ketika kita bergaul dengan kehidupan lingkungan yang kondusif, situasi dan kondisi sosial kita akan dapat merasakan bahwa pola hidup damai, produktif, dan mandiri merupakan karakter yang sangat perlu dimiliki oleh setiap orang. Peningkatan kualitas ekonomi, kualitas pendidikan, dan kualitas kesehatan bagi generasi masa depan suatu bangsa atau negara, juga sangat ditentukan oleh adanya iklim pengembangan budaya kondusif di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Generasi muda Aceh, saya yakin akan mampu memaksimalkan potensi dirinya ke taraf yang lebih berkualitas, jika situasi Aceh saat ini sangat kondusif, damai, aman, dan berkembang secara dinamis. Dan kita semua berharap, agar generasi muda Aceh terus diberi kesempatan lebih luas untuk dapat meraih tingkat pendidikan yang lebih berkualitas di berbagai lingkungan sekolah atau kampus yang the best. Termasuk diantaranya dengan mendukung program pemberian beasiswa berkelanjutan kepada generasi muda Aceh untuk belajar di berbagai kampus terbaik di luar negeri. Program pemberian beasiswa oleh Pemerintah Aceh kepada generasi muda Aceh untuk belajar di berbagai kampus di luar negeri, patut didukung oleh semua pihak.

Pentingnya investasi di bidang pengembangan SDM
Ketika saya berkunjung ke tengah-tengah kota Adelaide, South Australia, saya menemukan pola hidup dan karakter kondusif menjadi warna dan corak hidup yang sangat menentukan kemajuan dari kota Adelaide ini. Kondisi ini ternyata memang sangat dipengaruhi oleh adanya penciptaan budaya kondusif di tengah-tengah kota berkualitas kosmopolitan ini. Investasi untuk setiap sektor pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dapat bermanfaat untuk jangka panjang. Oleh karena itu, perhatian pemerintah untuk pengembangan sektor pendidikan atau pengembangan sumber daya manusia kini menjadi prioritas utama dari pembangunan Australia masa kini.

Kesan cantiknya budaya kondusif itu, semakin terasa terutama ketika saya berkunjung ke kawasan Kampus Flinders University. Kampus bermutu internasional ini ternyata memang sangat kondusif untuk mengembangkan sumber daya manusia yang unggul. Fasilitas gedung perkuliahannya sangat modern. Lingkungan kampus dan prasarana kampusnya dibangun dengan pendekatan nilai arsitektur sangat futuristik modern, memikat hati, dan sangat cantik dari segi ekonomi lingkungan. Kampus yang berada di atas kawasan perbukitan ini, di tengah-tengahnya tertata dengan baik sebuah danau buatan. Lalu juga dikelilingi pula oleh kawasan hutan dengan pepohonan yang tumbuh rindang. Dari atas perbukitan kampus ini, ke arah barat, kita dapat melihat pemandangan kota Adelaide yang cantik. Pinggiran kotanya di sebelah barat, berbatasan dengan laut teluk Gulf St. Vincent.

Bangkit ketika sunrise

Suasana kondusif dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) ini, juga mempengaruhi kita untuk bangun pagi lebih cepat. Hasrat untuk meraih hasil lebih baik, muncul secara spontan setiap hari, when the morning come. Bangun pagi terasa harus lebih cepat, jika kita hidup di negara maju. Seperti yang saya alami, ketika berada di Australia. Suasana bangun pagi lebih cepat juga dapat terjadi, disamping karena faktor alamiah (natural). Misalnya, akibat adanya perbedaan priode waktu yang bergulir, antara wilayah Australia dengan Aceh mencapai jarak sekitar 3,5 hingga 4 jam lamanya. Pada April 2010 lalu (saat bermukim di Adelaide), saya menyaksikan warga masyarakat Australia sudah menikmati sunrise pada periode waktu 06.20 am (pagi). Pada waktu yang sama di Aceh, saat itu umumnya warga masyarakat masih terlelap tidur. Karena posisi waktu saat itu di Aceh, baru berkisar pada putaran waktu 02.50 WIB malam hari.

Nah, ketika warga masyarakat di Australia sudah siap makan pagi dan sudah berada di ruangan kerja masing-masing pada saat detik waktu 10.00 am, ternyata di Aceh, baru sunrise muncul. Atau pada saat itu di Aceh, baru 6.00 WIB pagi hari. Otomatis, hal ini membuat warga masyarakat Aceh akhirnya baru mulai bekerja di kantor, ketika warga Australia sudah hampir selesai bekerja di tempat tugasnya masing-masing. Atau bagi para mahasiswa, sudah hampir selesai belajar di kampus. Karena pada saat itu, di Australia, sudah menunjukkan waktu afternoon (sore hari) 02.00 pm.

Nah perbedaan bangun pagi lebih cepat seperti tersebut di atas, antara warga Aceh dan Australia Selatan mungkin bukan suatu persoalan yang perlu diperdebatkan. Karena yang terpenting yang perlu diwujudkan adalah gerakan bangun pagi lebih cepat dan lebih produktif sejak pagi hari (sesuai dengan wilayah waktu masing-masimg negara).

Kearifan hidup

Bersyukurlah bagi kita yang giat shalat Shubuh, karena waktu bangun pagi bisa berlangsung lebih cepat lagi. Untungnya lagi, umumnya di berbagai perumahan warga Australia, tersedia air bertemperatur dingin dan hangat. Dan untuk berwudhuk, dapat mencampur air dingin dengan air panas yang mengalir melalui keran tersebut. Kearifan hidup terasa lebih terasah, jika kita bangun pagi lebih cepat.

Rakyat Aceh kini, sangat dituntut untuk dapat memiliki kemampuan berkompetisi dan bermitra secara lebih sehat dan lebih berbudaya kondusif. Agar dapat meraih nilai prospek ekonomi yang lebih kreatif dan positif untuk kemajuan generasi muda Aceh masa depan.

Investasi di bidang pengembangan SDM Aceh, yang sedang digalakkan oleh Pemerintahan Aceh perlu terus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Sangat menarik Aceh masa depan, jika kualitas SDM Aceh dapat tampil lebih cerdas dan berawawasan kosmopolit.

Oleh karena itu, sangat perlu diprioritaskan pula —peningkatan budget sektor pendidikan dalam setiap tahun Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Pemberian beasiswa (scholarship) bagi sejumlah pemuda Aceh untuk belajar di berbagai kampus mancanegara, harus terus ditingkatkan jumlahnya.

SDM Aceh yang cerdas, unggul, profesional dan berwawasan kosmopolit, serta futuristik, sangat menjadi daya pikat masyarakat mancanegara untuk menanamkan investasi ‘bermodal raksasa’ di Aceh. Untuk memantapkan program pengembangan SDM Aceh ini, menjadi penting kiranya bagi DPRA untuk segera mengesahkan satu qanun mengenai peningkatan wewenang dan status Lembaga Pengelola Beasiswa Aceh sebagai lembaga yang otonom, independen, dan memiliki anggaran tetap secara permanen serta berjangka panjang untuk mendukung program pengembangan scholarship bagi para pemuda Aceh yang cerdas dan berbakat.

Pemuda Aceh perlu diberi kesempatan lebih banyak untuk bisa belajar di berbagai kampus luar negeri, agar mereka dapat memperkuat program pembangunan Aceh masa depan yang lebih sejahtera, berkeadilan, dan bermartabat.Sehingga nantinya, generasi muda Aceh diharapkan dapat menyumbangkan budaya hidup yang lebih kondusif bagi Rakyat Aceh yang sama-sama kita cintai ini.

Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan kita, agar mengembangkan nilai-milai Budaya Rahmatan Lil’alamin. Karema memberikan rahmat bagi alam semesta, merupakan budaya kondusif yang sangat perlu dikembangkan secara terus menerus di Aceh. Oleh siapapun yang menghuni bumi Aceh.

Terima kasih,
Aiyub Syah, SE, M.Ag
(Pemerhati Ekonomi Dan Kebudayaan Kreatif)

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org