Swadeshi Aceh

Harga daging di Aceh termahal di Indonesia, bahkan dunia tulis media nasional; dan memang pernah diakui sendiri oleh Kepala Pemerintahan Aceh, Irwandi Yusuf, yang kebetulan adalah seorang dokter hewan.

Dua tahun lalu, Pemerintah Aceh mencanangkan usaha untuk menurunkan dan menstabilkan harga daging, khususnya daging sapi. Usaha tersebut mulai pada aras kebijakan dengan kembali memisahkan dinas peternakan dari dinas pertanian, dengan harapan supaya fokus dan meningkatkan daya serap anggaran; sampai pada tindakan langsung dengan mengimpor sapi Brahma dari Bali dan sapi dari Australia. Tapi di awal Ramadhan tahun ini, rakyat Aceh kebanyakan kembali dicekik harga daging meugang yang mahal, rata-rata Rp 100 ribu sampai 120 ribu per kilogram. Masih termahal di dunia!

***

Saat belajar sejarah dunia ketika SMA dulu, salah satu tokoh dan topik menarik bagi penulis dan teman-teman sekelas adalah tentang Mahathma Gandhi dengan prinsip-prinsip gerakan pembebasannya di India. Prinsip-prinsip perjuangan Gandhi yang terkenal itu adalah satyagraha (kekuatan kebenaran dan cinta), swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua makhluk).

Swadeshi adalah strategi yang menjadi fokus Gandhi. Menurutnya , swadeshi adalah jiwa dari swaraj (self rule, mengatur/menguasai sendiri). Terdengar akrab? Tentu saja! Negosiasi Aceh-Jakarta untuk mengakhiri konflik adalah lewat MoU Helsinki yang membuka kesempatan untuk Aceh mempunyai self government (pemerintahan sendiri). Demikian amanat MoU, demikian tersurat dalam UUPA. Paling tidak, demikian yang sering kita dengar dalam retorika manis para politisi kita.

Bedanya, Gandhi menggerakkan rakyat India untuk berjuang lewat swadeshi untuk mencapai swaraj. Mengurangi pemakaian produk luar bahkan memboikotnya, menghasilkan sebanyak mungkin produk lokal untuk menutupi kebutuhan sendiri sehingga tidak bisa didikte oleh Inggris si kolonialis. Karena tidak bisa didikte, rakyat India bisa mengatur diri sendiri alias merdeka.

Sedangkan di Aceh, self government (pemerintahan sendiri) adalah hasil negosiasi politik dan hanya akan jadi slogan politik pepesan kosong kalau tidak diisi dengan gerakan semacam swadeshi. Kita bisa tetap terus menyalahkan Jakarta yang kita tuduh peu glah ulee, mat iku (melepaskan kepala, tapi tetap memegang ekor), tapi adakah gerakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, gerakan untuk memakai produk lokal, gerakan untuk membebaskan diri dari dikte tauke Medan dan pasar regional/internasional? Adakah kita dan pemimpin Aceh kita sadar bahwa gerakan pembebasan paling hakiki adalah ketika rakyat bisa membebaskan diri dari sembarang tekanan yang datang darimanapun?

Ketika kebutuhan telur kita masih didikte pedagang dan pengusaha pakan ternak dari luar; ketika harga minyak nilam kita masih ditentukan oleh pengumpul di Medan dan pengimpor di Singapura; ketika baju, sepatu, buku, sampai gunting kuku tak pernah kita coba buat sendiri; ketika harga daging meugang kita masih didikte pasar, maka sebenarnya kita masih belum merdeka dan tak akan pernah bisa self-governed.

Demikian beratkah untuk dapat memenuhi kebutuhan sendiri? Untuk tidak didikte dan untuk merdeka? Kita sebenarnya pernah merasakan swaraj atau self rule atau self govern atau apapun namanya, ketika, misalnya, rumah-rumah di Aceh mempunyai kebun sayur dan kandang kecil untuk 3-5 ekor ayam atau itik. Sebagian bahkan punya kandang kambing dan sapi atau kerbau. Ketika itu, paling tidak sebuah rumah tangga pernah benar-benar independen. Independensi ini diperoleh dari usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dimulai dari kebutuhan sehari-hari seperti sayur-manyur dan telur serta daging ayam. Model ekonomi rumah tangga dan gampong seperti ini adalah model gerakan swadeshi di India yang terkenal itu.

Sayang sekali, mentalitas menerabas dan ingin serba instan kita telah melemahkan kemampuan untuk mandiri yang pernah kita miliki. Ekonomi Aceh yang pernah produktif dan bertumpu pada ekonomi pertanian yang mandiri, kini telah menjadi ekonomi impor yang selalu didikte oleh pihak-pihak luar.

Kita bisa berkilah bahwa harga daging meugang naik tajam karena mekanisme pasar. Permintaan (demand) yang meningkat tajam pada saat penawaran (supply) sama atau bahkan menururn menyebabkan harga juga ikut meroket. Begitulah titah hukum permintaan-penawaran ekonomi.

Permintaan meningkat tajam menjelang Ramadhan memang sebuah kenyataan yang tak terbantahkan sebagai akibat perilaku budaya konsumtif kita yang tak terkendali menjelang hari-hari besar. Tapi apakah kita sudah memeriksa betul apa yang kita lakukan pada sisi penawaran? Sudah cukupkan usaha kita untuk memproduksi sendiri? Mencukupi kebutuhan sendiri? Atau sebagian besar masih impor dan tergantung dari luar?

***

Malu hati betul rasanya penulis ketika mengunjungi Aceh Selatan pertama kali justru saat usia mulai berkepala empat. Amboi! Indah nian negeri pala itu. Negeri ini, termasuk ibukotanya kota naga Tapaktuan, diapit Samudra India yang aneka biru dengan pantainya yang indah dan pegunungan Bukit Barisan dengan kawasan ekosistem Leuser-nya yang mempunyai salah satu keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Setelah enam tahun merantau ke Jawa dan Bali, sepuluh tahun menetap di Amerika, dan melintasi banyak kawasan dan negara di antaranya, penulis justru mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama dengan bumi Aceh Selatan! Ah, betapa ruginya! Jauh-jauh penulis dan banyak aneuk nanggroe ini telah bepergian, padahal keindahan dan kemolekan alam yang begitu permai dan alami terletak di balik bukit saja: Aceh Selatan, yang juga produsen minyak nilam terbaik dunia.

Terpukau dengan keelokan bumi pala, penulis berjanji pada diri sendiri untuk segera kembali dan mengajak keluarga dan orang lain mengunjungi Aceh Selatan. Ya, kenapa kita tidak berpikir untuk menjadi pelancong domestik di negeri kita sendiri?

Menjadi turis domestik di Aceh paling tidak membuka dua kesempatan. Pertama, ia akan membuka mata kita untuk mensyukuri dan menikmati keindahan dan kekayaan alam yang luar biasa, anugerah Allah untuk kita semua. Tak perlu jauh-jauh ke luar Aceh, ke negeri orang dan ikut memperparah pemanasan global karena bolak-balik naik pesawat terbang.

Kedua, sambil mamanjakan mata kita dengan keindahan alamnya, sebenarnya kita juga telah membantu menggerakkan ekonomi lokal. Karena setiap pengunjung yang datang pasti membelanjakan uangnya untuk makan, penginapan, dan kebutuhan lainnya. Bayangkan jika mobilitas turis domestik ini cukup besar dan deras di seluruh Aceh. Bukankah ini bentuk lain dari swadeshi? Memenuhi kebutuhan berlibur dan melancong kita dengan kemampuan sendiri?

***

Aceh saat ini kiranya memerlukan gerakan dan pemimpin gerakan swadeshi. Karena self government tidak akan pernah menjadi kenyataan jika kita tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Dimulai dari kebutuhan pokok sehari-hari sampai kebutuhan tingkat ketiga berupa kebutuhan leisure atau pelesiran.

Mari kita produktifkan kembali lahan-lahan kosong pekarangan dan kebun kita dengan menanam sayur-sayuran sederhana pemenuh kebutuhan gizi anak-anak kita. Mari kita ajak saudara-saudara kita untuk kembali memelihara beberapa ekor ayam, itik, kambing, hingga sapi untuk memenuhi kebutuhan protein anak-anak harapan bangsa kita.

Untuk kebutuhan tingkat ketiga, mari kita mulai berpikir untuk berlibur secara domestik ke berbagai pelosok Aceh yang indah dan penuh kejutan! Tinggalkan kebiasaan tur tiga-negara tentangga kita yang telah menerbangkan demikian banyak devisa dari negeri kita yang sepatutnya menjadi tujuan wisata mereka.

Ini bukan kemunduran. Ini bukan anti-kosmopolitan. Orang Aceh sudah mengkonsumsi produk dari berbagai belahan dunia; saat pelabuhan bebas Sabang masih jaya atau ketika dunia menunjukkan solidaritas-setelah-Tsunami nya. Orang Aceh juga sudah ke mana-mana. Kini saatnya, sambil terus memelihara kosmopolitanismenya, orang Aceh juga ikut memproduksi apa yang dikonsumsinya. Bila perlu sampai bisa ikut membaginya dengan belahan dunia lainnya.

Orang Aceh juga perlu kembali mengenali setiap jengkal wilayahnya yang elok. Mungkin akan timbul kesadaran untuk mencitainya, memeliharanya, dan membaginya untuk orang dari negeri lain supaya bisa ikut menikmati keindahannya. Karena, ketika kita tidak takut lagi akan kekurangan dan kesulitan, malah sudah bisa berbagi kenikmatan dan keindahan, ketika itulah kita sudah kaya, mandiri, dan bahagia.

Ini tentang self rule dan self govern. Ini tentang kemerdekaan. Selamat hari merdeka!

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org