Mewaspadai Masalah dan Perilaku Seksual

Sudah sering ada yang bercerita bagaimana perilaku masyarakat Aceh yang keluar dari dalam sangkarnya. Begitu sampai perbatasan pun mereka sudah berubah total. Pergilah ke Medan dan lihat bagaimana mereka lapar dan haus kesenangan seks. Pergilah ke kedai-kedai dan rumah-rumah itu, juga pantai. Jangan kaget, ya!!! cerita banyak teman-teman saya. Benarkah?! Malukah?! Marahkah?!

Jangan disalahartikan kemudian sebagai sebagai tudingan atas orang luar yang tidak mengerti dan paham tentang bagaimana Aceh yang sebenarnya, tetapi lebih baik jadikan sebagai bahan untuk melakukan introspeksi diri. Segala sesuatunya tentunya ada penyebabnya dan oleh karena itulah sebaiknya juga diselesaikan. Saling tuding dan juga menutupi masalah tidak akan memberikan solusi yang berarti dan hanya membuat masalah baru saja. Bukankah di Aceh juga sudah ditemukan masalah HIV dan AIDS?! Kenapa sampai bisa ada?! Bagaimana dengan kasus pelecehan seksual yang terjadi?! Bukankah cukup tinggi?!

Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekah memang memiliki persepsi tersendiri di mata masyarakat Indonesia lainnya. Bahkan bila ingin berkunjung ke sana pun banyak memiliki kekhawatiran tersendiri karena menilai bahwa bila berada di sana, maka perilaku harus disesuaikan dengan aturan dan peraturan yang berlaku, yang tentunya berbeda dengan daerah lainnya. Namun banyak yang pada akhirnya merasa kecewa dan sedih karena pada fakta dan kenyataan yang ada, semua itu tidak seperti yang dibayangkan semula, sehingga kemudian mereka pun mulai bercerita.

Seperti salah seorang sahabat saya yang bekerja sebagai seorang peneliti lepas masalah kasus pelecehan seksual di sebuah lembaga dunia, di mana dia kemudian mengadakan riset di sana sesaat setelah bencana tsunami terjadi. Alangkah sedih dan terkejutnya dia atas hasil dari penelitian dan juga data yang dikumpulkannya. Tingkat pelecehan seksual di Aceh termasuk dalam kategori yang cukup tinggi dan mencemaskan. Sayangnya, pelaku pelecehan seksual itu seringkali ditutupi dan masalah pelecehan ini sendiri pun banyak yang tak diungkap dengan berbagai alasan.

Untuk kemudian mempublikasikan penemuannya ini pun menjadi tidak mudah dengan berbagai alasan pertimbangan politis, terutama masalah ketidaksiapan penerimaan atas fakta dan kenyataan yang ada, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sendiri. Hingga kemudian jalan tengah diambil, daripada kemudian menjadi sibuk mengatasi masalah pertikaian dan perdebatan yang tidak berujung, lebih baik mengikuti skala prioritas saja. Lebih baik mencoba menangani masalah sesuai dengan kapasitas dan kemapuan yang terbatas tetapi ada yang terbantu dan dibantu, juga ada yang diselesaikan.

Tentunya keadaan ini sungguh sangat mengkhawatirkan karena masalah akan terus berlanjut bila tidak diselesaikan bersama-sama. Apalagi jika dianggap tidak penting, dipungkiri dan dianggap tidak ada. Masalah seks bukan hanya masalah moral, etika, dan norma yang berlaku di masyarakat, tetapi merupakan pola pikir dan cara pandang yang memiliki pengaruh sangat besar bagi kehidupan masyarakat, termasuk sosial, ekonomi, budaya, dan juga politik.

Sebagai salah satu contohnya adalah masalah hubungan antara seks dan kepemimpinan. Dari hasil penelitian, analisa serta pengamatan, saya menyimpulkan bahwa seorang pemimpin yang memiliki masalah gangguan seksual dan masalah kejiwaan yang terlihat pada perilaku seksualnya sangat berpengaruh terhadap kemampuannya di dalam menjadi seorang pemimpin, terutama di dalam perilakunya di dalam menentukan kebijakan, keputusan, dan juga di dalam bersikap dan berperilaku. Seorang pemimpin seharusnya memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, bila tidak, maka bila tidak sehat, tidak akan mampu menjadi seorang pemimpin yang benar-benar mampu menjadi pemimpin.

Pemimpin yang selalu merasa takut, terancam, mudah cemburu, dan kemudian selalu berkeinginan untuk memenuhi hasrat dan ambisinya untuk menguasai dan mendominasi dengan cara apapun meski merugikan banyak yang lainnya, juga paling senang mempermalukan yang lain, bisa jadi memiliki masalah dengan kemampuan seksualnya dan juga memiliki kelainan kejiwaan yang biasa disebut dengan sadomashocism. Semua berawal dari ketidakmampuan, kurangnya rasa percaya diri, dan juga ketidakjujuran yang ingin ditutupi, namun dengan cara yang salah. Jangan heran juga bila kemudian untuk menggapai posisi pun dia menghalalkan berbagai cara, lalu mengambil keputusan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan, membuat musuh-musuhnya malu, dan selalu membuat celah dalam kesempatan terutama untuk memuaskan dirinya sendiri saja.

Tentunya hal ini bisa menjadi tidak nampak kasat mata apalagi bila berbalut penampilan yang lebih menonjolkan kebaikan, kesopanan, dan juga memiliki iman serta keyakinan yang tinggi. Meyakinkan yang lainnya lewat penampilan, mereka yang tidak memperhatikan dan juga yang tidak mengerti ataupun memahami perilaku ini. Bahkan banyak yang kemudian berusaha mengingkari dan menutupi dengan alasan tak mungkin karena sebegitu yakinnya dengan penampilan. Penampilan bisa saja demikian, isi hati dan benak seseorang siapa yang tahu?! Bagaimana dengan diri kita sendiri?! Jika mau jujur, seberapa sering kita menipu yang lainnya dengan penampilan?! Seberapa sering kita ingin mendapatkan nilai atas penampilan kita?!

Mematikan hasrat seksual juga bukan menjadi solusi di dalam menanggulangi masalah seks ini karena yang mematikan ini justru yang lebih berbahaya. Segala sesuatu yang dipendam dan disimpan sementara itu merupakan sesuatu yang alami, bisa meledak lebih dahsyat lagi. Menjadi tidak terkontrol dan semakin tidak karuan, karena tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Ini juga yang kemudian menimbulkan ketidakjujuran dan pada akhirnya menjadi banyak terjadi masalah dalam perilaku seksual dan juga kejiwaan.

Khusus untuk masalah Aceh dan wilayah lain yang mengalami bencana besar, diakui tidak diakui, banyak masyarakat memiliki masalah dengan trauma besar dan berlanjut. Semua ini kemudian dia berpengaruh terhadap kejiwaan dan perilaku seksualnya. Tidak sedikit orang yang mengalami trauma akut, mencoba untuk mengatasinya dengan melakukan kegiatan seksual. Ini disebabkan karena bila orgasme tercapai, maka ada hormon endhorpine, hormon penenang alami yang dihasilkan oleh tubuh sehingga merasa tenang, rileks, dan nyaman. Sama seperti morphine, hormone ini pun seperti candu yang bisa membuat kecanduan bila tidak dikendalikan. Berbagai masalah seks dan penyimpangan perilaku seksual sering terjadi kepada mereka yang seperti ini atau biasa disebut dengan seks maniak.

Seringkali penderita seks maniak ini tidak merasa, tidak sadar, tidak mengakui, ataupun tidak juga dicermati dan dideteksi dengan baik. Salah satu contohnya adalah sering orang tidak menduga, orang tertentu bisa melakukan hal-hal yang tidak baik padahal sehari-harinya kelihatan baik. Masalahnya, memang karena pengetahuan tentang seks ini sendiri masih sangat minim. Apakah tahu bahwa mereka yang kecantuan menonton/mengoleksi/menyebarkan film, gambar, dan tulisan porno bisa masuk dalam kategori seks maniak bila mereka tidak lagi bisa fokus dan selalu berpikiran kotor?! Apakah tahu juga bahwa mereka yang tidak bisa mengendalikan hasrat seksualnya dan sering berganti pasangan, membeli cinta, memiliki banyak pasangan juga bisa masuk dalam kategori ini?! Begitu juga dengan pasangannya yang diam dan bungkam serta menikmati semuanya itu. Bisa jadi juga memiliki kelainan kejiwaan dan perilaku seksual karena terbiasa.

Ini baru satu masalah saja, belum lagi masalah lainnya seperti hubungan seksual di bawah umur, incest, penyakit kelamin, dan juga aborsi. Ini erat sekali hubungannya dengan masa depan generasi penerus atau anak-anak. Banyak sekali masalah gangguan kesehatan fisik dan mental bahkan cacat terjadi karena hal ini. Apakah tega membiarkan semua ini terjadi?! Bagaimana nasib kelangsungan masyarakat Aceh sendiri bila terus dibiarkan?!

Untuk menyelesaikan masalah seksual dan penyimpangan perilaku seksual, baik dilihat dari segi kesehatan, moral, etika, norma, ataupun agama, menurut saya buka diselesaikan dengan cara menghukum ataupun menutupinya. Tidak juga dengan kemudian mengumbar seks itu sendiri. Tabu dan tidak tabu bukan inti masalahnya. Di Negara Timur dan juga Barat, yang berbeda polanya pun memiliki masalah yang sama. Ada benang merah yang kemudian, menurut penelitian dan pengamatan saya, seharusnya dicermati, yaitu pola pikir dan cara pandang terhadap seks itu sendiri.

Seks sekarang ini hanya diartikan sebagai jenis kelamin atau yang saya sebut sebagai seonggok daging di belahan paha saja, sehingga kemudian seks itu menjadi porno dan merupakan sebuah objek yang ditabukan atau juga dijadikan sarana untuk menunjukkan eksistensi di dalam kebebasan dan modernitas. Semua ini menjadi tertanam di dalam pola pikir dan cara pandangnya saja. Lain ceritanya bila seks itu dijadikan subjek di mana objeknya adalah belajar dan pembelajaran. Seks itu pun menjadi tidak porno karena seks itu merupakan rahmat dan anugerah yang tidak bisa ditolak, dihindari, dipungkiri, ataupun dimatikan. Lebih baik seks itu dihargai dan dihormati sehingga bisa menjadi sesuatu yang positif bagi kehidupan dan masa depan.

Tidak mudah untuk mau mengakui apa yang terjadi karena memang tidak mudah juga untuk bisa menerima ada yang salah dalam diri kita sendiri. Kita lebih mudah menunjuk jari dan sembunyi tangan lalu menyalahkan yang lainnya. Amat sangat diperlukan kejujuran, kedewasaan, kematangan, dan jiwa yang besar untuk mengakui semua ini. Adalah bukan sesuatu yang tidak mungkin bila memang ada keinginan. Toh, di dalam semua tuntunan agama pun, begitu juga di dalam Al Quran, masalah tentang seks ini sendiri ada. Kenapa tidak dipelajari dengan baik dan benar?! Sesuatu yang kecil belum tentu remeh dan tidak bisa menghancurkan. Sesuatu yang besar belum tentu juga berarti berharga, bernilai, dan memberikan arti serta manfaat yang besar bagi kehidupan.

Tulisan ini bukan hanya untuk Aceh saja tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia dan juga dunia agar mau melihat seks sebagai sesuatu yang penting. Seks itu tak mesti porno karena seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri.

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org
Skip to toolbar