Mewujudkan Pencerahan Aceh, Melalui Jalur Pendidikan

Mencermati masih tingginya perhatian dunia internasional terhadap peningkatan mutu pendidikan di Aceh, sebaiknya kalangan tokoh pemerintahan di Aceh,bersatu-padu bersama kalangan akademisi menggalang kerjasama nasional, regional dan skala global, untuk mewujudkan era pencerahan baru di Aceh. Jika kita pelajari dari berbagai likur sejarah bangsa dan negara-negara maju di Eropa, pada umumnya mereka menjadi bangsa dan negara yang maju, justru setelah mereka melewati proses pencerahan (enlightenment)

Pencerahan ilmu pengetahuan, sebenarnya sudah berlangsung sangat lama dalam khazanah pemikiram masyarakat muslim, sebelum terjadinya era pencerahan di tengah peradaban Barat (Eropa), dunia Islam pada Era Daulah Abbasiyah (750 M1258 M) telah pernah mencapai era keemasan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Belajar dari pengalaman Daulah Abbasiyah Abad 8 M- Abad 13 M , dan juga era aufklarung (pencerahan) Eropa abad !8, kita dapat menarik hikmah bahwa zaman pencerahan, adalah sebuah era penting untuk memajukan peradaban ummat manusia. Dan memiliki peran strategis untuk memberikan cahaya baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih baik bagi ummat manusia.

Bagi dunia Barat, pencerahan yang mereka dambakan pada saat era aufklarung abad 18 M itu adalah, perjuangan serius untuk melakukan perubahan sosial yang lebih sesuai dengan nilai kecerdasan rasional umat manusia, dan berusaha untuk ‘keluar dari dogma-dogma pemikiran bersifat tahayul atau ‘cara berpikir ortodoksi dan dikotomis tokoh-tokoh keagamaan Yunani Abad 17′—- yang telah dipandang oleh para tokoh-tokoh aufklarung seperti Imanuel Kant—bahwa cara berpikir ortodoksi dan dogmatis keagamaan itu telah kedaluarsa pada ukuran Abad 18 M itu’.

Pada kurun waktu tertentu, pencerahan masyarakat Eropa, membuahkan hasil yang menakjubkan. Dengan majunya penerapan metode ilmiah dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Imanuel Kant (1784), seorang filosof dari Jerman menyebutkan keberhasilan pencerahan itu, sangat dipengaruhi oleh faktor ‘kemandirian (independensi) berpkir, dan juga kecerdasan rasional setiap manusia’ guna mewujudkan suatu perubahan sosial yang bersifat pencahayaan peradaban (aufklarung). Istilah aufklarung itu sendiri berasal dari bahasa Jerman. Dan Imanuel Kant mengembangkan dan meresonansikan pencerahan itu bermula dari tanah airnya, Jerman. Kemudian pemikirannya berkembang ke berbagai penjuru Eropa dan dunia.

Aceh butuh pencerahan

Aceh kini juga butuh pencerahan. Setelah sempat menjadi pusat perkembangan peradaban Islam yang termasyhur di Asia Tenggara, pada Abad 17 hingga jelang Abad 18. Setelah era keemasan masa Sultan Iskandar Muda, periode kejayaan Aceh, seperti kita ketahui mulai meredup setahap-demi setahap.

Kini, perlu ada sebuah gerakan kultural bersifat double movement (meminjam istilah Fazlur Rahman), untuk menghidupkan budaya pencerahan ilmu pengetahuan dan teknologi di Aceh. Artinya harus ada gerakan kultural untuk mereaktualisasikan lagi nilai-nilai historis keilmuwan Aceh pada masa lalu secara sistematis, berdasarkan realitas dan akar-akar historis kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi pada periode Aceh masa lalu.

Beberapa sarana dan prasarana, serta metode ilmiah terpenting yang perlu dikembangkan, adalah peningktan fasilitas dan kapasitas perpustakaan di berbagai universitas di Aceh, untuk pengadaan buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah yang memiliki mutu dan keilmuwan bersifat pencerahan. Dan sistem perpustakaan di Aceh, perlu bersinergi dengan berbagai universitas mancanegara. Sekaligus dapat memenuhi standar sebagai perpustakaan universitas Abad 21.

Selanjutnya, budaya membaca (Iqrak) di kalangan mahasiswa dan guru juga harus ditingkatkan, kemudian kalangan menengah ke atas Aceh, mestinya berempati untuk menyokong peningkatan jumlah donasi bantuan hibah bagi peningkatan fasilitas akademik dan peningkatan mutu perpustakaan di berbagai lembaga pendidikan dan perguruan tinggi di Aceh.

Budaya Good Governance perlu dihidupkan

Perwujudan prinsip-prinsip good governance di Aceh secara transparan dan kredibel, otomatis dapat membuat dana-dana segar Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) dapat dialihkan dan ditingkatkan jumlahnya untuk membantu peningkatan beasiswa bagi generasi muda yang berasal dari kalangan rakyat miskin, dan juga menambah jumlah gaji guru-guru bangsa, serta untuk meningkatkan kesejahteraan para tenaga kerja pengelola sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Aceh. .Kemudian juga dapat lebih melengkapi berbagai sarana dan prasarana belajar dari jenjang taman kanak-kanak hingga jenjang perguruan tinggi di Aceh.

Good Governance,”Defined as the exercise of political power to manage a nation’s affairs (Bank Dunia, 1989)”. Selanjutnya menurut (ADB, 2000), Good Governace adalah kebijakan publik untuk membantu rakyat miskin dan kelompok-kelompok masyarakat yang tertindas atau tak berdaya, untuk dapat terintegrasikan ke dalam proses pembangunan yang berkelanjutan.

Bagaimana memajukan dunia pendidikan di Aceh?

Selanjutnya, saya terkesan untuk mengajukan pertanyaan, bagaimana memajukan dunia pendidikan di Aceh secara menyeluruh? Baik dari tingkat derajat pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU), hingga Sekolah berderajat pendidikan tinggi (Universitas). Berdasarkan realitas empirik, yang saya lihat langsung di negara maju Australia, maka hal yang paling mendasar untuk memajukan dunia pendidikan di Aceh, harus dimulai dari keseriusan berbagai lapisan masyarakat, termasuk pemimpin untuk menyokong terwujudnya suatu sistem pendidikan yang bermutu. Dan Pemerintah Pusat, serta Pemerintah di tingkat daerah, juga harus memiliki kebijakan anggaran untuk dunia pendidikan dalam jumlah besar. Dan jumlah anggaran itu harus terus meningkat secara berkelanjutan.

Guru-guru di negara maju, umumnya memiliki tingkat gaji yang sangat besar. Dan sekolah-sekolah di negara maju, dari tingkat Taman Kanak-kanak (kindergarten) hingga universitas, memiliki ruangan perpustakaan yang sangat modern dan sangat besar jumlah koleksi bukunya. Anak-anak kecil sejak era kindergarten, telah dibiasakan setiap pagi belajar menggunakan komputer untuk bermain, melukis, menyanyi, dan juga berhitung. Selanjutnya, pihak pimpinan sekolah, guru serta orang tua wali, selalu terlibat dalam dialog yang serius dan intim, untuk membahas berbagai persoalan untuk meningkatkan mutu anak didik, dan juga peningkatan mutu sekolah.

Hal ini juga berlaku di tingkat universitas. Setiap universitas di negara maju, memiliki ruangan perpustakaan yang sangat modern, disamping lengkap dengan berbagai koleksi buku, juga memiliki prasarana komputer yang mencapai jumlah ribuan unit. Setiap departemen atau fakultas memiliki ruang baca menggunakan ratusan komputer secara modern. Lalu jika para mahasiswa terkendala, untuk mendapat buku-buku baru untuk belajar atau penulisan thesis, atau disertasi, pihak kampus menggalang kerjasama dengan berbagai kampus di seluruh penjuru dunia. Dan di kampus juga dibangun sebuah toko buku modern, dimana hal ini juga untuk membantu mahasiswa mendapatkan berbagai buku baru dari berbagai penjuru dunia.

Jika mengacu kepada MOU Helsinki dan UUPA, maka Rakyat Aceh berpeluang besar menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan sangat bermutu tinggi. Dan hal itu sesuai dengan nilai-nilai Good Governce.

Saya pikir, alangkah lebih baiknya jika alokasi dana Anggaran Pembangunan Daerah Aceh (APBA) Tingkat I dan Tingkat II, sebesar 30 persen ditujukan untuk meningkatkan mutu anak didik, termasuk untuk membantu yatim piatu, juga meningkatkan mutu para guru, serta mutu sarana dan prasarana pendidikan di Aceh. Selanjutnya digunakan untuk menerjemahkan dan menerbitkan bunku-buku bermutu —- untuk penguatan pencerahan dan perdamaian Aceh secara berkeadilan. Di negara-negara maju, iuran pajak dari rakyatnya, sebagian besar dipakai untuk memajukan mutu sumber daya manusia. Aceh seharusnya dapat meneladani berbagai hal positif dari negara maju tersebut. Pemerintah pusat, juga harus komit memajukan dunia pendidikan di Aceh secara menyeluruh, dan berkeadilan.

Kebijakan di bidang pembangunan sumber daya manusia pada dasarnya, mendapat dukungan positif dari berbagai negara maju. Dan hal ini mendapatkan prioritas penting dari program bertajuk ‘Good Governance’. Sesuai dengan visi dan cita-cita masyarakat dunia baru melalui kerangka pembangunan untuk seluruh ummat manusia, yaitu cita-cita pembangunan era millenium ketiga. Posisi Aceh sangat strategis dan ideal untuk memajukan dunia pendidikan. Karena berdekatan dengan cekung pusat pertumbuhan perekonomian dan peradaban baru dunia, yaitu cekung pasifik. Berdekatan dengan negara-negara industri baru di Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, Singapore, China plus Hong Kong, Malaysia, dan Taiwan.

Semoga Pemerintah Aceh, dan dunia pendidikan di Aceh, dapat menggalang kerjasama lebih mesra dengan berbagai negara maju, Untuk menggenjot peningkatan spiritualitas keilmuwan yang berwawasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) serta Keimanan dan Ketakwaan (Imtak) kepada Allah SWT, secara lebih bermartabat. Walau bagaimanapun, pendidikan yang bermutu tinggi, pada dasarnya akan mampu membuat generasi muda Aceh masa depan, mampu membuka lapangan kerja dalam skala besar-besaran di Aceh. Sehingga Aceh masa depan dapat setara kemajuannya dengan negara-negara maju. Dan nilai-nilai perdamaian dan keadilan akan semakin menguat perkembangannya di Aceh.

Insya Allah, melalui pengamalan dan pengintegrasian spirit pencerahan ‘Iptek dan Imtaq’ yang pernah muncul di masa kejayaan Islam di Aceh pada era Abad 17 hingga Abad 18 tempo dulu, maka Aceh dapat dikembangkan lagi menjadi pusat pengembangan masyarakat berperadaban tinggi (madani) pada masa depan. Sehingga Rakyat Aceh juga dapat menikmati kesejahteraan hidup secara lebih berkeadilan dan berkemakmuran sesuai dengan nilai Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad.

Menurut Jalaluddin Rahmat (1998), dalam bukunya, “Islam Alternatif, Ceramah-ceramah di Kampus, yang dipublikasikan oleh penerbit Mizan,” Al Quran menunjukkan empat sumber utama untuk memperoleh ilmu pengetahuan; pertama, Al Quran dan as Sunnah, selanjutnya kedua, alam semesta. Ketiga, diri manusia (anfus), dan Keempat, Tarikh (sejarah peradaban umat manusia).

Sistem pendidikan di Aceh, semestinya memperkuat nilai-nilai pencerahan di Aceh, dengan mengacu pada empat sumber utama di atas. Agar pengelolaan dunia pendidikan di Aceh, tidak mengambang atau bersifat sekulerisme. Karena dalam Islam, menganut sistem pendidikan yang memadukan antara akal dan kecerdasan menguasa ilmu pengetahuan secara harmonis. Bagaikan dua sayap yang menyatu dalam sebuah tubuh ‘merpati putih’ yang cinta damai. Karena makna kata ‘Islam’ itu sendiri, berarti cinta damai. Dan Islam secara universal, juga cinta kepada nilai-nilai rahmatan lil’ alamin.

Generasi cendekiawan Darussalam semoga dapat memainkan peran yang lebih bermutu tinggi dan dapat menjadi pelopor bagi gerakan pencerahan Aceh yang bernilai kemaslahatan dan kesejahteraan hidup yang lebih bermartabat bagi Rakyat Aceh dan bagi semua umat manusia dan seisi alam semesta ini. Kini saatnya untuk mewujudkan era keemasan baru bagi Aceh. Semoga Allah meridhai Aceh berjaya lagi kini.

Terima kasih

Daftar Pustaka;

M. Achsin; “Menyingkap Dampak Positivisme, Terhadap Esensi Penciptaan Manusia”, Tema, Volume 7, Nomor 1, Maret 2006.

Munawiah, Jurnal Adabiya, Volume 14, No. 27, Agustus 2012, Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry

John M. Echols and Hasan Shadily, An English-Indonesian Dictionary, (New York;Cornell University Press, Ithaca, 1975)

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org
Skip to toolbar