Analisis Kritis Terhadap Tulisan Snouck Hurgronje tentang Habib Seunagan

Snouck Hurgronje telah menulis sesuatu yang keliru, sehingga bisa melahirkan fitnah bagi kaum sayyid dan sangat merugikan keluarga besar sayyid di Seunagan Nagan Raya khususnya keturunan Habib Seunagan yang lebih dikenal “Keluarga Besar Habib Muda Seunagan”

Snouck Hurgronje pernah menyinggung tentang Habib Seunagan dalam bukunya yang berjudul Aceh dimata Kolonialis di terjemahkan oleh Ng. Singarimbun,1985[1]. Atau C. Snouck Hurgronje The Achehnese Vol II diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh AWS. Wilkinson. Leyden : Late E.J. Brill, 1906. Dalam bukunya Snouck Hurgranje menulis bahwa Habib Seunagan lahir di Pidie yaitu daerah Peunadok Pidie sehingga Habib Seunagan mendapatkan nama Teungku Peunadok. Dalam catatan kaki atau footnote tulisannya Snouck Hurgronje juga menyebutkan bahwa Habib Seunagan bukan seorang sayyid. Yang lebih eskrim lagi Hurgronje juga menerangkan bahwa Habib Seunagan memperbolehkan memegang Al-Quran walaupun dalam keadaan tidak suci. Lebih lanjut Hurgronje juga menjelaskan bahwasanya Habib Seunagan memperbolehkan seorang laki-laki bisa mempunyai istri sembilan orang sekaligus. Nauzubillah min zalik, Hurgronje sudah menuliskan sejarah yang menyesatkan para pembaca. Berikut akan penulis terangkan beberapa penjelasan agar pembaca tidak tersesat dalam sejarah.

Tulisan Snouck Hurgronje tidak bisa dijadikan referensi karena menyesatkan.

Snouck Hurgronje telah menulis sesuatu yang keliru, sehingga bisa melahirkan fitnah bagi kaum sayyid dan sangat merugikan keluarga besar sayyid di Seunagan Nagan Raya khususnya keturunan Habib Seunagan yang lebih dikenal Keluarga Besar Habib Muda Seunagan karena nama baiknya telah tercemar. Tulisan Hurgronje yang menyatakan Habib Seunagan bukan sayyid tidak mendasar dan beralasan, karena Hurgronje menulis tulisan tersebut hanya berdasarkan pada informasi yang didapatkan dari mulut ke mulut[2] bukan atas dasar penelitian yang sistematis. Hurgronje hanya menulis berdasarkan opininya saja, bukan atas dasar penelitian yang dilakukan langsung ke lapangan, sehingga apa yang ditulis Hurgronje tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Lagi pula Hurgronje merupakan seorang yang sengaja ditugaskan Jendral Van Houts (Perwira Militer Belanda) untuk memantau keadaan dan perkembangan Islam di Indonesia khususnya daerah jajahannya di Bumi Serambi Mekah. Karena Hurgronje seorang mata-mata utusan Belanda sudah pasti bahwa ia pun memusuhi para tokoh umat islam, khususnya tokoh-tokoh sayyid di Aceh. Belakangan juga diketahui bahwa Hurgronje merupakan seorang orientalis[3] yang sengaja mempelajari islam dengan maksud menyerang islam dari dalam dengan cara mencari-cari kelemahannya. Selain itu Hurgronje juga sengaja mendekatkan diri dengan ulama-ulama di Aceh untuk memasukkan pikirannya dengan tujuan/misi orientalis yang sengaja memprovokasi para umat islam (mengadu domba) agar islam hancur. Oleh sebab itu penulis berpendapat bahwa tulisan Hurgronje tersebut tidak bisa dijadikan referensi sejarah.

Benarkah Habib Seunagan dilahirkan di Pidie?

Habib Seunagan bukan dilahirkan di Pidie seperti yang diterangkan Snouck Hurgranje, yang benar adalah Habib Seunagan dilahirkan di Seunagan tepatnya di kediaman sang ayah yaitu di Rameuan. Berikut keterangan dari pihak keluarga : . Lahe Habib Nanggroe Seunagan, di Rameuan Ibu Bapak . Artinya : . lahir Habib di Negeri Seunagan, di Rameuan tempat tinggal ibu dan bapak .. Inilah merupakan keterangan faktual yang menjelaskan bahwa Habib Seunagan dilahirkan di Seunagan.

Lalu bagaimana dengan namanya yang dikenal dengan Teungku Peunadok, apakah benar Habib Seunagan memperoleh nama Peunadok dari Pidie? Jawabannya adalah tidak! Nama Peunadok yang melekat pada Habib Seunagan disebabkan beliau sering menyembunyikan identitas diri sebagai seorang habib atau sayyid[4] yang bertarikat. Habib Seunagan pertama digelari Teungku Peunadok pada saat beliau merantau ke Pidie dalam hal menuntut ilmu pada Teungku Chik Teupin Raya. Peunadok merupakan bahasa Aceh, berasal dari kata padok yang artinya menutup/menyembunyi. Menurut Imam Habib Abdullah al-Hadad[5], seorang ahli tarikat memang tidak ingin dimasyhurkan, mereka sangat hati-hati dalam menutup dirinya dan bersifat khumul (tidak mau dikenal orang) dan menjauhkan diri dari khalayak ramai. Jadi atas dasar penjelasan di atas penulis ingin menegaskan bahwa nama Habib Seunagan sebagai Teungku Peunadok tidak ada kaitan dengan tempat tinggalnya seperti yang dituliskan Hurgranje.

Benarkah Habib Seunagan bukan sayyid ?

Berikut akan penulis uraikan sedikit biografi Habib Seunagan untuk meluruskan tulisan Hurgronje. Habib Seunagan adalah seorang keturunan sayyid dengan nama lengkap Habib Abdur Rahim bin Habib Abdul Qadir Ramaan[6]y bin Sayyid Atah al-Qadiri atau yang dikenal juga dengan nama Sayyid Athaf (nasabnya terus bersambung kepada Rasulullah SAW)[7]. Lebih lanjut bersadarkan hasil penelitian disertasi Daniel Andrew Birchok[8], dapat diketahui bahwa Habib Abdur Rahim merupakan keturunan dari Sayyidi Syaikh Abdul Qadir Jailani[9]. Walaupun keluarga dan keturunannya tidak begitu paham dengan ilmu nasab dan nama-nama keluarga/klan/marga/fam, namun dapat diketahui bahwa pada dasarnya Habib Seunagan berasal dari Saadah al-Qadiri al-Jailani karena garis keturunannya bersambung kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani. Gelar al-Qadiri atau al-Jailani[10] merupakan gelar yang dinisbatkan kepada nama leluhurnya yaitu Syaikh Abdul Qadir Jailani[11]. Lagi pula, jika benar Habib Seunagan bukan sayyid seperti yang diterangkan Hurgronje maka tidak mungkin ayahnya memakai gelar habib dan kakeknya memakai gelar sayyid diawal namanya. Menurut Ketua Rabithah Alawiyyah Sayyid Zen al-Smith, gelar habib tidak bisa disematkan kepada setiap sayyid, karena gelar habib dikhususkan bagi seorang sayyid yang memiliki karakter ketokohan, tinggi ilmunya, dan baik akhlahnya. Setiap habib harus sayyid, tetapi sayyid belum tentu habib[12]. Lagi pula, masyarakat di Seunagan juga mengetahui keabsahan Habib Seunagan sebagai keturunan sayyid, sehingga sampai saat ini masyarakat Nagan Raya khusunya Jamaah Tarikat Syattariyah masih menaruh rasa hormat terhadap keturunan Habib Seunagan. Terhadap keturunannya masyarakat menyapa atau memanggil dengan panggilan habib, tengku habib, tengku yed[13]. Sampai saat ini keturunan Habib Abdur Rahim atau Habib Seunagan sudah mencapai generasi ke 7. Misalnya Sayyid Ahmad bin Umar bin Abdur Rahman bin Abdur Rani bin Abdullah bin Usman bin Abdur Rasyid bin Habib Abdur Rahim al-Qadiri.

Lebih lanjut, masyarakat Aceh juga tahu bahwa panggilan habib merupakan panggilan khusus kepada keturunan sayyid atau syarif. Pada tahun 1990 Budiman Sulaiman dkk telah melakukan penelitian yang berjudul Sistem Sapaan dalam Bahasa Aceh. Dari hasil penelitian tersebut dapat dijelaskan bahwa panggilan atau sapaan habib atau sayyid dikhususkan kepada keturunan Arab[14] karena masyarakat Aceh menaruhi rasa hormat terhadap mereka[15]. Dalam hal ini penulis mengutip tulisan Prof. H.S. Tharick Shihab, dalam bukunya dijelaskan bahwa keturunan Hadrat Sayyidina Hasan dan Hadrat Sayyidia Husain di panggil dengan panggilan sayyid, kalau untuk banyak di sebut Sadat. Sebab Rasulullah SAW mengatakan bahwa kedua anakku ini menjadi sayyid (yang berarti : Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga. Selain dipanggil sayyid, keturunan Imam Hassan dan Imam Hussen juga dipanggil syarif (yang berarti orang mulia atau orang berbangsa) kalau banyak disebut Asyraf[16]. Demikianlah penjelasan tentang kekeliruan tulisan Snouck Hurgranje tentang sosok ulama mistik yaitu Habib Abdur Rahim al-Qadiri yang dikenal dengan Habib Seunagan. Semoga dengan penjelasan ini bisa memberi informasi yang benar (tidak menyesatkan) kepada pembaca khususnya keluarga sayyid yang ada di nusantara, sehingga terhindar dari kesalahpahaman maupun fitnah.

Benarkah Habib Seunagan memperbolehkan pegang Al-Quran dalam keadaan tidak suci & memperbolehkan laki-laki menikah dengan tujuh orang perempuan sekaligus ?

Seperti yang telah penulis uraikan di atas bahwa Habib Seunagan merupakan seorang sayyid yang sudah jelas keturunannya, baik akidahnya, dan jelas keilmuan islamnya seperti para leluhurnya yang suci. Habib Seunagan merupakan seorang ulama kharismatik yang melakukan islamisasi di Negeri Seunagan, beliau berakidah suci seperti leluhurnya, dengan mazhab Syafii, Ahlulsunnah Waljamaah dan bertarikat Syattariyah[17]. Meskipun Habib Seunagan bertarikat Syattariyah, namun dalam praktek ibadah beliau juga mempraktekkan ajaran Tarikat Qadiriyyah dan Nagsabandiyyah. Secara sanat Tarikat Syattariyah bersabung kepada Sayyidina Jakfar Shadiq, Sayyidina Muhammad al-Baqir, Sayyidina Ali Zainal Abidin, Sayyidina Ali hingga kepada Baginda Muhammad Rasulullah SAW. Dalam mengamalkan dan mengajarkan ilmu islam kepada murid atau pengikutnya Habib Seunagan tetap berpegang teguh kepada Al-Quran dan Al-Hadis serta berunjuk pada pendapat-pendapat para salaf. Habib Seunagan mempunyai ilmu fiqh dan ilmu rahasia sehingga beliau mampu melaksanakan ibadah dan mengajarkan ilmu pada muridnya dalam empat hal yaitu Syariat, Tarikat, Hakikat dan Maarifat. Karena Habib Seunagan merupakan ulama yang taat beribadah kepada Allah semata, seluruh hidupnya dipersembahkan untuk Allah SWT sehingga beliau mencapai maqam kewalian yaitu wali qutb dengan gelar quthbul wujud (gelar quthbul wujud juga disandang oleh Habib Musyayyikh Babud di Hadramaut[18]. Jadi tidak masuk akal jika Habib Seunagan memperbolehkan memegang Al-Quran dalam keadaan tidak suci dan memperbolehkan seorang laki-laki bisa mempunyai istri sembilan orang sekaligus seperti yang dituduhkan Snouck Hurgronje. Buktinya sampai hari ini tidak ada satupun pengikut maupun keturunannya yang mempraktekkan seperti yang disudutkan Snouck Hurgronje. Demikianlah penjelasan singkat terhadap tuduhan Snouck Hurgronje semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin Yaa Rabbal Alamin.


[1] Lihat Snouck Hurgronje, Aceh dimata Kolonialis Jilid II di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ng. Singarimbun. Jakarta : Yayasan Soko Guru, 1985. Hlm 15.

[2] Lihat juga C. Snouck Hurgronje The Achehnese Vol II diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh AWS. Wilkinson. Leyden : Late E.J. Brill, 1906. Hlm 14.

[3] Yang perlu diketahui bahwa usaha untuk melenyapkan ilmu nasab terhadap kaum sayyid sudah dilakukan sejak abad ke 12 oleh orientalis seperti Westernfield dari Jerman dan RB. Sargent dari Inggris dengan tujuan mencerca nasab bani alawi. Lihat Sayyid Seggaf Ali al-Kaf Sebuah Kajian Mengenai Nasab Sadah Bani Alawi Diterjemah oleh Ustad Amin bin Abdul Qadir, yang kemudian disusun ulang oleh Syed Omar al- Shahab dan Syed Ibrahim al-Kaf. Madinah Almunawwarah : Perce. Dar Alim Almarifat, 1406 H/1989 M. Hlm 64.

[4] Sampai saat ini banyak keturunan Habib Seunagan, yang masih menyembunyikan tentang asal usul mereka, mereka tidak suka menyebut-nyebutkan silsilah kepada orang, bahkan kepada anak-anaknya, dengan alasan menjaga amanah yang sudah dilakukan turun menurun. Hal tersebut dilakukan karena dua hal, pertama untuk menghindari tindak kejahatan dari orang-orang yang iri atau tidak suka dengan gelar kesayyidan yang disandangnya (sejarah mencatat Sayyid Abdur Rani cucu Habib Seunagan yang dikenal dengan Teungku Putik di asingkan ke Banyuwangi oleh Belanda). Kedua, untuk menghindari dari kesombongan diri karena silsilah yang mulia. Mungkin saja hal tersebut dilakukan berkaitan dengan pesan Syaikh Abdul Qadir Jailani yang melarang anak-anaknya untuk menyebut-nyebutkan silsilahnya, Nabi SAW bersabda Barang siapa memperlambat amalnya, tidak akan dipercepat nasabnya seperti yang dikutip Abdul Razzaq dalam bukunya yang berjudul Syaikh Abdul Qadir Jailani, Guru Para Pencari Tuhan diterjemah oleh Aedhi Rakhman Saleh. Bandung : PT. Mizan Pustka. Hlm 90-91.

[5] Imam Habib Abdullah al-Haddad, Dakwah yang Sempurna Peringatan yang Utama Diterjemahkan oleh Syed Ahmad Semait, Singapura : Pustaka Nasional Pte Ltd, 2006. Hlm 92-93.

[6] Ramaany berasal dari kata Rameuan, yang merupakan tempat tinggal Habib Abdul Qadir bin Sayyid Atah al-Qadiri.

[7] Lihat Sammina Daud Abu Habib Muda Seunagan & Tarikat Syattariyah Jakarta : Karya Sukses Sentosa, 2009. Hlm 27.

[8] Lihat Daniel Andrew Birchok Sojourning on Meccas Verabdah : Place, Temporality, and Islam in an Indonesian Province University of Michigan, 2013. Hlm 231- 233. Diperkuat dengan cacatan silsilah yang dibuat oleh Habib Muda Seunagan & tersirat juga dalam catatan silsilah Teungku Chik Dikila (sahabat Habib Seunagan) yang dibuat oleh Abdul Gafur (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga 1983-1988).

[9] Pada usianya yang kelima puluh satu tahun Syaikh Abdul Qadir Jailani tidak pernah berpikiran untuk menikah, namun mengingat sunnah beliau menikahi dengan empat perempuan sekaligus. Dari pernikahan ini beliau dikarunia 49 anak, 20 orang laki dan 29 perempuan (Lihat Syaikh Abdul Qadir Jailani, Penyingkap Kegaiban Penerjemah Syamsu Basarudin, Ilyas Hasan, Bandung : Mizan, 1990. Hlm 35-36). Berikut penulis sebutkan beberapa putranya yang terkenal yaitu : Syaikh Abdul Wahab, Syaikh Isa, Syaikh Abdul Razak, Syaikh Musa, Syaikh Abdus Salam, Syaikh Abdul Jabbar, Syaikh Yahya, Syaikh Ibrahim, Syaikh Muhammad, Syaikh Hassan dan Syaikh Abdullah. Cucu Syaikh Abdul Qadir Jailani yang terkenal adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Mufti Syafii Masjidil Haram di Madinah, Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani mursyid Tarikat Nagsabandiyah di Siprus, Sayyid Thohir Alauddin al-Jailani di Bagdad, Syaikh Ismail Abdul Qadir al-Jailani di Pulau Besar Melaysia. Saat ini cucunya yang terkanal adalah Habib Umar bin Hamid al-Jailani di Mekah, Syaikh Afifuddin al-Jailani berasal dari Irak sekarang menetap di Malaysia, Syaikh Muhammad Fadhil al-Jailani di Turki dan lain-lainnya.

[10]Selain dikenal dengan klan/gelar al-Qadiri atau al-Jailani, keturunan Syaikh Abdul Qadir Jailani, dikenal juga dengan gelar al-Gelani dan al-Kailani. Namun, sebahagian dari keturunan Syaikh Abdul Qadir Jailani ada yang sudah menggunakan klan/gelar baru seperti menisbatkan kepada tempat tinggalnya, atau menisbatkan pada nama datuk yang bermigrasi dari tanah airnya yang asli. Adapun beberapa klan baru tersebut sebagaimana dikutip Abdul Razzak al-Kailani dari kitap al-Syaikh Abdul Qadir al-Kailani karya Syaikh Yunus al-Samrai dan kitab Tarikh al-Iraq Baina Ihtilalain dan Asyair al-Iraq karya Syaikh Abbas al-Azawi, yaitu : al-Zhabyan dan al-Bahrah di Damaskus, al-Zaid di Nablus, al-Bajumah (keturunan Syaikh Isa), al-Hadahidah (keturunan Syaikh Abdul Razzak), al-Hiyaliyyin (keturunan Syaikh Abdul Aziz di Hiyal),al-Abayiji (keturunan Syaikh Abdul Aziz),al-Bu Hamad al-Bakar, al-Bu Ghanimah, al-Bu Jasim, al-Bu Gnamam, al-Muthalikah, al-Asyarat, al-Aghwat di Mosul, al-Alusi dan al-Qadhi di Tikrit, al-Syaikh Abdan di Liwa Diyali. Lihat Abdul Razzak al-Kailani Syaikh Abdul Qadir Jailani Guru Para Pencari Tuhan diterjemahkan oleh Aedhi Rakhman Saleh, Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2009. Hlm 273-274.

[11]Menurut Abdul Razzaq al-Kailani, penyebaran klan al-Kailaniyyah/al-Jailaniyyah mengakar dan tumbuh di Bagdad, lalu menyebar ke segala arah hampir meliputi dunia islam. Syaikh Abdul Qadir Jailani sering mengirim anak-anaknya untuk berdakwah dan mengajar, seperti Syaikh Musa di kirim ke Mesir dan Syam, hingga wafat di Damaskus. Terus di ikuti oleh anaknya yang lain yaitu Syaikh Isa pergi ke Syam, lalu ke Mesir hingga wafat di sana. Begitu juga dengan Syaikh Abdul Aziz ikut bergabung dalam perang asqalan, lalu menetap di Hiyal dan wafat di sana. Hal demikian terus di lakukan oleh anak dan cucunya yang berpindah-pindah yang kemudian mereka menyebar ke berbagai negara islam di dunia. Lihat Abdul Razzaq al-Kailani, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Guru Para Pencari Tuhan diterjemah oleh Aedhi Rakhman Saleh. Bandung : PT. Mizan Pustka. Hlm 271-273.

[12]http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9xiu-rabithah-alawiyah-novel-fpi-bukan-habib. Diakses tanggal 15 Oktober 2014.

[13] Kuhnt-Saptodewo, Grabowsky & Grossheim, 1997. Hlm 183. Dapat di lihat juga http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Aceh.

[14] Keturunan Arab yang dimaksudkan disini adalah keturunan Hadrat Sayyidina Hassan dan Hadrat Sayyidina Hussen cucu Rasulullah SAW dari Sayyidah Fatimah Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

[15] Budiman Sulaiman, dkk Sistem Sapaan dalam Bahasa Aceh Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan & Kebudayaan 1990. Hlm 58.

[16] Sayyid Tharichk Shihab Asasl-usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, dst, di Indonesia Jakarta : 12 Rabiul Awal 1395 H. Hlm 21.

[17] Tarikat merupakan hal yang lazim bagi keluarga sayyid misalnya Syaikh Sayyid Abdul Qadir Jailani, melahirkan Tarikat Qadiriyah. Syaikh Sayyid Hasan Syazili, melahirkan Tarikat Syazaliyah. Syaikh Sayyid Abdullah al-Hadad, melahirkan Tarikat Alawiyah/Hadadiyah. Syaikh Sayyid Ahmad ar-Rifai, melahirkan Tarikat Rifaiyah, Syaikh Sayyid Ahmad Badawi, melahirkan Tarikat Badawiyah. Syaikh Sayyid Maulana Jalaluddin ar-Rumi, melahirkan Tarikat Maulawiyah. Syaikh Sayyid Abbas Ahmad Syarif at-Tijani, melahirkan tarikat Tijaniyah. Syaikh Sayyid Muhammad Samman al-Madani, melahirkan Tarikat Sammaniyah dll.

[18] Lihat Ahmad Imron & Syamsul Hary Hadramaut Bumi Sejuta Wali Surabaya : Cahaya Ilmu Publisher & Duta Mustafa Press. Hlm 163.

adalah Mantan Wakil Sekretaris Umum Badko HMI Aceh, dan Tulisan ini merupakan bahagian dari Hasil Penelitian Tesis Penulis pada Program Magister Ilmu Hukum UMA, Maret 2014 dan Pernah bergabung dengan Himpunan Alawiyin Muda-Mudi Remaja Aceh & tercatat sebagai Pengurus Asyraf Aceh 2011-2013

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org
Skip to toolbar