Bajing Loncat

Mari sejenak beralih dari topik “Australia, Cicak vs Buaya jilid 2, Bali Nine, narkoba dan hukuman mati” dan melihat lagi topik “bajing loncat” yang merugikan kita, bukan cuma sopir angkutan. Seperti pernah diangkat oleh harian Serambi Indonesia (2/10/2014) tentang ‘Pengusaha Angkutan Aceh Ingin Tembak “bajing loncat”‘. Sebelum lebaran haji kemarin, bahkan mungkin sampai sekarang, bajing semakin akrab saja di indera dengar dan visual kita. Tentunya, bukan sekadar tupai yang kerjaannya melompat dari satu pohon ke pohon lain guna mencari “setumpuk” rezeki. Lebih dari itu. Tupai yang loncat ke atas truk pengangkut barang, lalu menjarahnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bajing adalah tupai (ciurus notatus). Yang mengandung pengertian sebagai binatang pengunggis buah-buahan, berbulu halus, berwarna kuning atau cokelat, hidup di atas pohon. Sedangkan bajing loncat adalah pencoleng yg mencuri barang muatan dr atas kendaraan (spt truk, bus) yg sedang berjalan. Ada satu definisi lain, bajingan, yaitu penjahat; pencopet; kurang ajar (kata makian).

Bajing loncat kian intens diperbincangkan. Terlebih para sopir truk yang menjadi korban kebajinganan bajing loncat yang melewati perbatasan Aceh-Sumut. Seakan belum usai kasus serupa; pelemparan bus umum dan pemerasan atau pungutan liar di sekitar perbatasan, kasus ini pun naik daun.

Tidak jauh berbeda dengan leluhurnyatupai–, bajing loncat pun semakin gesit saja aksinya di atas truk. Layaknya aktor yang sedang berlaga, mereka pun loncat dari sepeda motor ke atas truk angkutan yang sedang melaju dari dan menuju Aceh. Dengan senjata tajam mengikat di pinggang, perlahan diambil lalu disobeklah terpal yang menyelimuti barang. Sejumlah aksi itu berhasil, namun tak jarang yang menuai tragis. Bajing(an) itu jatuh, terluka atau meninggal dunia.

Bisa jadi, ini salah satu alasan harga bahan pokok, sembako hingga apapun yang diimpor dari Medan menjulang harganya ketika sampai di Aceh. Sebab, ongkos pengamanan itu tinggi.

Maka, beringaslah para sopir dan pemilik truk angkutan itu. Pernah suatu ketika, saya berbincang-bincang dengan salah seorang sopir truk. Katanya, para bajing itu tidak takut jatuh atau dipukuli sama sopir truk. Kadang, mereka rela bergelantungan di atas truk demi merampas barang di atas truk. Celakanya, terpal yang harganya lumayan– yang dipasang di atas truk kerap koyak dan tidak bisa dipakai lagi setelah bajing kerja. Belum lagi dengan barang bawaan itu sendiri yang dirampas oleh para bajing.

Sopir tersebut pun punya pegangan sendiri, kalau tidak dia (bajing loncat) yang mati, ya saya. Ia sempat mengaku geram karena yang diambil bukan seperlunya saja. Melainkan merusak semua yang ada. menyoe icok ubee peurlee hana peu-peu lah. Nyo, dipeurosak mandum. Kalau diambil seperlunya saja tidak terlalu masalah, tapi mereka merusak semua.

Untuk menghindari loncatnya bajing ke atas truk, para sopir bersepakat akan berjalan beriringan, demi meminimalisasi perampokan. Beberapa kali sempat berhasil, kali lain barang di dalam truk masih sempat dibawa kabur.

Jatuh juga

Ada sebuah istilah yang sering kita dengar, sepandai-pandai tupai melompat, ada kalanya ia jatuh juga. Nah, begitu juga yang terjadi pada bajing yang sering melompat ke atas truk pengangkut barang di sekitar perbatasan Aceh-Sumut.

Para bajing loncat ada yang terlibat baku hantam dan bacok dengan para sopir. Ada yang terluka, bahkan meregang nyawa di tempat. Seperti pengakuan sopir tersebut. Katanya, teman saya pernah melawan bajing. Akhirnya, setelah perlawanan sengit, bajing itu tewas jatuh dari truk. Sebuah harga yang tidak murah untuk ditukarkan.

Hal ini bukan tanpa dasar, kenekatan para tupai itu sudah kelewatan. Yah, namanya juga nekat ya, kalau tidak hidup ya mati. Sebuah filosufi yang dipegang teguh oleh para bajing(an) itu.

Tuntaskan segera

Persoalan bajing loncat adalah persoalan klasik, namun terlalu usik kalau tidak segera diatasi. Sama seperti persoalan pungli dan pelemparan bus yang seakan sudah menjadi borok menahun. Seyogianya penegak hukum dan pengambil kebijakan kedua provinsi di Aceh dan Sumut bertindak tegas dan tidak main-main. Dilanjutkan dengan pengawasan serta peran aktif masyarakat akan sangat membantu mengatasi masalah ini tidak terulang lagi.

Tidak cukup hanya dengan menangkap bajing loncat, oknum-oknum yang terlibat dan ikut membantu serta melindungi mereka juga mesti ditindak. Termasuk juga penampung barang-barang hasil rampasan itu. Semua kita ikut mengawasi dan berperan. Karena rakyat yang bersatu menjadi kekuatan yang sangat kuat dan berpengaruh besar dalam mendobrak kezaliman.

Mari kita duduk sejenak memikirkan persoalan ini dan mencari solusinya. Tidak cukup dengan bertanya pada rumput yang bergoyang. Wallahu alam bisshawab!

Tagged under:

Penulis adalah siswa Sekolah Riset Aceh Institute Angkatan I, peminat sosial politik dan pendidikan.

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org