Relasi Aceh Darussalam dan Kerajaan Utsmani, Sebuah Perspektif

Kerjasama Kerajaan Aceh dan Kerajaan Utsmani pada abad ke 16 dan 19 adalah salah satu diplomasi yang sangat penting baik bagi wilayah Asia Tenggara, juga bagi Samudra Hindia—wilayah kekuasaan Utsmani. Hasil penelusuran koresponden antara kesultanan Aceh Darussalam dan Utsmani baik pada abad ke 16 dan 19 mengisyaratkan adanya ideologi Pan-Islamisme pada abad-abad tersebut. Memang secara sekilas pandang, surat tersebut mengesankan bahwa hanya Aceh Darussalam saja yang mendapatkan keuntungan dari hubungan ini

Tentunya ini ada benarnya, sebagaimana Dennys Lombard mengatakan bahwa datangnya bantuan militer dan ahli-ahli perang dari Utsmani telah meningkatkan teknologi dan strategi perang Kerajaan Aceh Darussalam. Namun jika melihat kondisi geopolitik pada saat kerjasama tersebut terjadi, maka relasi ini juga merupakan simbiosis mutualisme bagi kedua belah pihak.

Aceh Darussalam ketika dipimpin oleh Alaiddin Riayatsyah Al-Kahhar merupakan Kerajaan Islam yang sangat kuat di Asia Tenggara. Disebutkan oleh sumber Portugis bahwa hasil perdagangan lada Aceh ke Eropa pada abad ke 16 mampu membangun kembali peradaban Eropa sebagai ekses dari perang salib. Secara militer dan politik, Sultan Al-Kahhar mewarisi sifat kepemimpinan Ali Mughayat Syah yang kuat dan visioner. Semasa periodenya, Al Kahhar pernah beberapa kali menggempur Malaka untuk menghancurkan portugis. Tapi karena angkatan laut Portugis pada saat ini sangat efektif dan kuat, maka Aceh Darussalam gagal menaklukkan Malaka.

Kondisi kekalahan perang dengan Portugis juga dialami oleh Kerajaan Utsmani. Sekitar tahun 1538-39, Sultan Sulayman Agung mengirim sebuah ekspedisi laut yang besar ke Diu, Goa. Ekspedisi ini juga mengalami kekalahan, dikarenakan pemimpin Diu telah diganti dengan pemimpin yang pro terhadap Portugis. Kekalahan ini membuat Sultan tidak memfokuskan lagi ekspedisinya ke Samudra Hindia, tapi ke arah Eropa. Walaupun pada saat itu, Kerajaan Utsmani mengalami kerugian finansial karena Portugis berhasil memblokade jalur perdagangan laut dari Samudra Hindia hingga ke Laut Merah. Sehingga mereka berhasil memonopoli perdagangan Timur.

Disaat situasi ini terus berlangsung, Sultan Al-Kahhar berinisiatif untuk mengirimkan surat kepada Sultan Sulayman agar memberikan bantuan militer kepada Aceh Darussalam. Dalam suratnya, Al-Kahhar menegaskan bahwa Aceh merupakan daerah yang kaya dan memiliki berbagai macam sumber daya alam yang dibutuhkan untuk membuat alat-alat tempur yang canggih. Namun, Aceh Darussalam belum memiliki kecanggihan teknologi militer yang dimiliki oleh Utsmani saat itu. Oleh karenanya, ia mengirimkan surat kepada Sultan Sulayman Agung agar mengirimkan ahli-ahli perang dan guru-guru yang mampu mengajarkan prajurit Aceh Darussalam untuk membuat senjata yang canggih.

Awalnya Sultan Sulayman meragukan utusan ini, sehingga Sultan Ustmani mengirimkan seorang agenlutfi Beyuntuk melakukan penelitian mengenai kondisi Aceh. Setelah selesai meneliti, Lutfi Bey bersama dengan rombongan utusan resmi Sultan Aceh Darussalam kembali ke Istanbul untuk memberikan laporannya. Hasil penelitian ini kemudian diterima oleh Sultan Selim IIkarena Sultan Sulayman Agung sudah wafat. Selim II segera mengirimkan bantuan tersebut ke Aceh Darussalam sebanyak 19 kapal perang, namun diperkirakan hanya dua kapal perang besar saja yang sampai di daratan Aceh Darussalam. Sesampainya pasukan tersebut di Aceh Darussalam, Sultan Al Kahhar kemudian menyerang Malaka dengan gempuran yang sangat besar pada tahun 1568.

Melihat kondisi politik kedua kerajaan Islam ini, maka dapat disimpulkan bahwa pengabulan permintaan Sultan Aceh Darussalam oleh Sultan Utsmani ini disamping memiliki motif agama, juga memiliki motif politik. Relasi kedua Negara Islam ini harus dilihat sebagai sebuah gerakan Pan-Islamisme. Gerakan persatuan Muslim untuk menghancurkan musuh bersama yakni Portugis. Dengan pengiriman bantuan militer tersebut, Kerajaan Utsmani berhasil meningkatkan kekuatan aliansinyaAceh Darussalamdi Asia Tenggara, sehingga mampu menyeimbangi kekuatan Portugis di Asia Tenggara dan Samudra Hindia. Kerjasama ini merupakan upaya untuk menghilangkan dominasi Portugis yang telah merugikan kedua kerajaan Islam tersebut.

Namun tentu benar adanya juga bahwa Aceh Darussalam secara resmi, khususnya pada abad ke 16, merupakan bagian Kerajaan Utsmani. Karena dalam suratnya, Al-Kahhar meminta agar Sultan Utsmani mengganggap daerah Aceh Darussalam sebagai vilayet (propinsi) dan Sultannya sebagaimana layaknya gubernur Jiddah. Hal ini tentunya merupakan teknik diplomasi Sultan Aceh Darusalam kepada Khalifah Islam yang sangat dihormati. Karena semenjak Sultan Yavuz Selim (Selim I), dua kota dan symbol Islam yakni Mekkah dan Madinah telah ditaklukkan oleh Kerajaan Utsmani. Yang artinya, Khalifah Utsmani adalah khalifah Islam penjaga dua kota suci tersebut.

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org