Disiksa dan Bangkrut

Perjanjian damai yang telah ditandatangani sejak lama masih menjarakkan kata- kata sejahtera bagi korban konflik yang merasakan kontak senjata pada masa pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM). Hal inilah yang dirasakan oleh bapak SM (40 tahun).

Pada masa konflik SM masih berusia 18 thn. Dalam sebuah perbincangan, beliau menceritakan bagaimana kepedihan yang dirasakan. SM dijemput oleh tentara yang pertama kali bertugas di Rumoh Geudong pada malam Jumat, pada saat dia datang  untuk mengambil KTP. Keesokan harinya tentara kembali menjemput SM untuk dibawa kembali ke Rumoh Geudong. Tanpa sepatah kata pembuka tentara langsung memukul beliau. Tiga hari tiga malam SM disiksa hingga babak belur.

Setelah itu SM dibawa ke Sigli. Sesampai di Sigli SM diperiksa lagi di sebuah posko sampai selesai. Setelah itu ada laporan oleh Tentara Rumoh Geudong bahwa ada teman SM di RUmoh Geudong. Terpaksa beliau dibawa kebali ke rumoh geudong untuk menjalani interogasi lanjutan.

Sesampai di Rumoh Geudong SM disiksa lagi sampai babak belur. Mereka dipukul dengan balok dalam kondisi diikat dan mata tertutup, tanpa pakaian kecuali celana dalam saja. SM berkata, ”Bersama saya, waktu itu, cuma dua orang yang disiksa di rumoh geudong, saya dan MA warga kampung ini.”

Setelah disiksa di Rumoh Geudong, SM dibawa lagi ke Sigli selama 23 malam di dalam jeruji besi. SM berkata, “Selama di Sigli beliau tidak disiksa oleh tentara, tetapi mereka diadu dombakan (lage ji peu meuleut manok) sesama mereka oleh polisi.” SM mengatakan bahwa ia harus mengeluarkan uang sebesar 4 juta di dalam penjara, “saya diminta uang oleh Kapolres 4 juta, masa itu uang 4 juta sangat banyak, masih harga emas 80 ribu satu mayam.”

Saat ini setelah perdamaian damai diteken SM tidak mendapatkan apa-apa “satu amplop pun belum saya rasakan” ungkap SM, tetapi beliau mengatakan ada yang mendapatkan dan ada juga yang tidak, seperti saya tidak mendapatkan apa-apa.

SM sangat berharap adanya perhatian dari Pemerintah untuk korban konflik yang saat ini belum mendapatkan apa-apa. SM juga berharap ada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, agar beliau mendapatkan biaya hidup. Karena banyak biaya yang beliau keluarkan pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) dulu untuk berobat, pungkasnya.

Muhiburridha [Mahasiswa Jurusan Psikologi, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh]

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org
Skip to toolbar