AL-FATIH SANG PEMIMPIN

OLEH: MUHAMMAD NUKMAN (Mahasiswa Program PascaSarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh)

Para ilmuwan yang mengkaji tema-tema kepemimpinan menyimpulkan betapa pentingya kepemimpinan yang efektif dalam sebuah organisasi, baik dalam bidang kenegaraan, perniagaan, politik, bahkan agama dan organisasi nirlaba (Sondang, 2003).

Menurut Hadhari Nawawi (1993) kepemimpinan dalam perspektif Islam didefinisikan dalam dua bagian. Pertama, kepemimpinan yang bersifat spiritual yaitu kemampuan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah baik secara bersama-sama atau perorangan. Kedua, kepemimpinan yang bersifat empiris yaitu kemampuan menggerakkan orang lain secara bersama-sama mencapai tujuan dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun karakter kepemimpinan adalah tata cara mempengaruhi demi terwujudnya misi dan visi bersama. Karakter akan terlihat dalam beragam penampakan luar yang pada akhirnya akan terjawab apakah itu pencitraan atau bukan. Karakter sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam memimpin sebuah lembaga atau organisasi.

Belakangan ini sangat sulit menemukan pemimpin yang berkarakter sejati. Sejak musim pilkada, masyarakat sudah disuguhi dengan ribuan janji yang sebagiannya tidak logis. Mereka menampilkan kesederhanaan, yang dibungkus dengan kegiatan sosial hingga bantuan tanggap darurat yang bombastis. Begitu pula dalam ranah agama, mereka berlaku seolaholah sosok yang paling hormat dan dengan ulama. Namun setelah terpilih, janji tinggallah janji, setiap kebijakan hanya ditujukan untuk kepentingan kelompoknya.

Sejumlah proyek juga tergantung pada fee yang didapat demi mempermudah segala urusan. Tidak ada target lagi dalam membangun pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian rakyat. Rakyat hanya menonton tingkah pemimpinnya dalam membagi-bagikan uang dan kekuasaan. Rakyat terus dibuai dengan pencitraaan atau berita palsu tentang pembangunan, dan yang pasti rakyat terus berpeluh dengan keringat dan air mata sebagai penopang hidup.

Sementara itu, sejarah Islam kaya dengan pengalaman politik dan kepemimpinan sepanjang peradabannya. Kepemimpinan muslim mulai pudar ketika kekuasaan imperium Utsmaniyah yang berpusat di Turki melemah dan akhirnya runtuh akibat konspirasi politik. Namun, sebelum keruntuhannya terdapat seorang sultan yang menarik perhatian dunia. Eropa menyebutnya the sick man of the Europe.

Dalam lembaran sejarah Turki Usmani, kaum Muslimin sangat mengenal sosok Muhammad Al-Fatih, sang pembebas Konstantinopel. Ia lahir pada tahun 833 H (1429 M) yang merupakan Sultan Usmani ketujuh dalam silsilah keluarga usman, bergelar Al-Fatih dan Abul Khairat, memerintah kurang lebih selama 30 tahun dan berhasil membawa kebaikan dan kemuliaan bagi kaum muslimin. Dia diangkat menjadi penguasa Daulah Usmaniyah pada usia 22 tahun, setelah ayahnya wafat pada 16 Muharram 855 H (1452M). (Ash-shalabi, 2014:266)

Orang tuanya sangat memperhatikan pendidikannya. Karena itulah ia tunduk pada aturan yang langsung dimotori oleh ulama terkenal dizamannya. Dia pun belajar Al-quran, hadits, fikih, dan ilmu-ilmu modern di zaman itu seperti berhitung, falak, sejarah, dan pendidikan militer. Salah satu karunia Allah kepadanya adalah proses pendidikan dimana ia dibimbing lansung oleh sejumlah ulama garda depan di zamannya (Ash-shalabi, 2008:178)

Muhammad Al-Fatih sangat mencintai gurunya, Syeh Aaq Syamsuddin. Ia memilki kedudukan yang sangat mulia dalam di dalam istana. Dalam sebuah ungkapan al-Fatih  berkata;  sesungguhnya kalian melihatku begitu gembira, namun kegembiraanku bukan saja disebabkan penaklukan benteng ini tapi sesungguhnya kegembiraanku ini disebabkan keberadaan Syekh yang mulia ini di zamanku. Dialah pendidikku, syekh Aaq Syamsuddin. (Al-Munyami, 2012:93)

Amru Khalid menjelaskan bahwa sang Sultan adalah pribadi yang unik. Memiliki tekad kuat dan berani dalam menggapai visinya. Dikisahkan bahwa ketika Kaisar Konstantin menolak tawaran menyerah secara damai, dia berkata dengan gagah berani; “Baik, setelah ini aku akan memiliki singgasana atau kuburan di Konstantinopel”. Dia mampu menggabungkan antara kekuatan, keadilan, keahlian bahasa dan pemahaman sejarah sehingga dikemudian hari semua itu membantu pemantapan kepribadiannya dalam menjalankan urusan negara.

Sejarah menempatkan Muhammad al-Fatih dalam daftar pemimpin besar seperti Napoleon dan Alexander the Great. Namun, masih dapat ditemukan perbedaan yang mencolok diantaranya dalam soal ketaatannya terhadap agama, kedekatan dengan ulama, keberaniaan dan kecerdasan.

Karakter tersebut pantas diikuti dalam memimpin baik dalam skala kecil atau besar. Dalam konteks kekinian, seorang pemimpin harus mapan dalam pendidikan baik formal ataupun non-formal, spirit Al-Fatih harus diikuti dalam membela kemuliaan Islam. Berbagai karakter terbaik yang melekat pada Muhammad Al-Fatih ini harus ditanamkan pada generasi muda harapan bangsa. Mari kita teladani karakter kepemimpinannya, sosok pemimpin yang teguh pendirian, adil, cerdas, beriman prima dan berakhlak paripurna.

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org
Skip to toolbar