Oleh: Prof. DR. Fuad Mardhatillah, MA (Phils), Pembina The Aceh Institute
Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi paling mudah diakses sepanjang sejarah manusia, tapi kebingungan paling parah juga terjadi sekarang. Ini era “Post Truth”.
Istilah ini populer sejak dipilih Oxford sebagai Word of the Year, 2016. Secara sederhana, Post Truth adalah kondisi ketika fakta objektif punya pengaruh lebih kecil dalam membentuk opini publik dibanding emosi, keyakinan pribadi, dan narasi yang menyenangkan. Singkatnya: yang terasa benar lebih menang dari yang benar-benar benar.
Ketika kondisi ini berulang dan dibiarkan, ia naik kelas jadi “hegemoni”. Hegemoni Post Truth adalah ketika cara berpikir berbasis emosi dan narasi itu mendominasi sampai dianggap normal, wajar, bahkan satu-satunya cara berpikir yang sah.
Bagaimana Hegemoni Post Truth Bekerja Hari Ini?
Hegemoni tidak turun dari langit. Ia punya tiga mesin penggerak utama.
Pertama, Algoritma Atensi. Media sosial tidak dirancang untuk menyebarkan kebenaran. Ia dirancang untuk menahan mata kita di layar. Algoritma akan memprioritaskan konten yang memicu marah, kaget, dan geli. Kebohongan yang dramatis selalu lebih cepat dan lebih menghibur daripada penjelasan fakta yang panjang. Akibatnya, yang viral menjadi yang dianggap benar.
Kedua, Ekonomi Narasi. Di era ini, narasi adalah komoditas. Ada pasarnya. Penjual obat herbal “ajaib”, kelas “rahasia kaya cepat”, sampai ustadz dadakan yang menjual ketenangan instan, semuanya hidup dari satu bahan baku: keputusasaan publik. Mereka tidak menjual produk. Mereka menjual harapan.
Ketiga, Tirani Identitas. Post Truth tumbuh subur ketika orang memilih kubu dulu, baru mencari fakta. Prinsipnya jadi: “Kalau kelompokku bilang A, maka A benar”. Mengecek fakta dianggap pengkhianatan. Loyalitas menggantikan logika. Akibatnya, satu peristiwa bisa punya dua realitas yang bertolak belakang tergantung kubu mana yang melihat.
Dampak Negatifnya di Seluruh Lini Kehidupan
Ketika kebenaran kehilangan kursi kehormatan, seluruh tatanan sosial ikut goyah. Kerusakannya menyebar ke semua bidang.
1. Sosial dan Budaya: Hilangnya Tanah Bersama
Dulu kita bisa beda pendapat tapi masih berpijak pada fakta yang sama. Sekarang tidak. Satu berita dipotong, diberi caption provokatif, dan disebar. Konteks mati. Yang hidup hanya kemarahan. Silaturahmi retak, keluarga pecah, teman jadi musuh hanya karena beda tafsir status 2 baris. Kita hidup di gelembung kebenaran masing-masing dan tidak lagi punya bahasa yang sama untuk berdiskusi.
2. Politik: Krisis Kepercayaan Institusi
Dalam politik Post Truth, debat bukan lagi adu gagasan dan data, tapi adu jargon, meme, dan siapa paling lantang. Lembaga negara seperti KPU, DPR, pengadilan, bahkan media arus utama, dicurigai sebagai “bagian dari konspirasi”. Yang dipercaya justru influencer, akun anonim, atau tokoh yang paling sefrekuensi secara emosi. Ketika kepercayaan runtuh, stabilitas ikut runtuh.
3. Ekonomi: Ladang Subur Penipuan
Inilah wilayah yang paling nyata korbannya. Hegemoni Post Truth melahirkan industri “kaya cepat”. Skema investasi bodong, trading halu, crypto tanpa fundamental, dan kelas online kosong, semuanya viral karena satu umpan: FOMO atau takut ketinggalan. Literasi keuangan kalah telak dari testimoni palsu. Banyak orang kehilangan tabungan seumur hidup karena percaya narasi, bukan laporan keuangan.
4. Kesehatan dan Sains: Taruhannya Nyawa
Di bidang ini, Post Truth paling berbahaya. Narasi “saya sembuh dengan ini” lebih dipercaya daripada puluhan jurnal medis. Vaksin diragukan, sains disebut konspirasi, dan pengobatan medis ditinggalkan demi produk tanpa izin BPOM. Akar masalahnya sama: orang lebih percaya pengalaman satu orang di video 60 detik daripada riset 10 tahun. Korbannya bukan hanya dompet, tapi nyawa.
5. Agama dan Spiritualitas: Munculnya “Ustadz Rasa-rasa”
Wilayah agama tidak luput. Hegemoni Post Truth melahirkan fenomena “ustadz abal-abal”. Ciri utamanya: jubah besar, narasi emosional, dalil dipotong, tapi tidak punya sanad ilmu yang jelas. Mereka menjual validasi, bukan perbaikan. Ayat dipotong 5 kata jadi konten motivasi 1 menit. Akibatnya, banyak orang kecewa dengan agama karena yang ia temui adalah pedagang, bukan guru. Kepercayaan pada ulama yang berilmu ikut rusak.
6. Seni, Sains, dan Teknologi: Kaburnya Batas Realitas
Kemajuan AI dan teknologi editing membuat batas antara asli dan palsu semakin tipis. Gambar AI diklaim sebagai karya seniman. Video deepfake disebar sebagai fakta. Di dunia sains, hasil riset bisa dikalahkan oleh infografis yang estetik tapi salah data. Ketika realitas bisa diciptakan, maka realitas itu sendiri kehilangan otoritas.
Akar Masalah: Mengapa Kita Rentan
Hegemoni ini tidak akan menang jika kita tidak punya celah. Ada tiga celah utama dalam diri kita.
Pertama, Kelelahan Informasi. Otak manusia punya batas. Di tengah banjir informasi tiap hari, otak mencari jalan pintas. Jalan pintas itu adalah memilih yang paling mudah dicerna dan paling menyenangkan didengar, bukan yang paling benar.
Kedua, Krisis Otoritas. Dulu ada guru, ilmuwan, ulama, dokter yang menjadi rujukan. Sekarang semua orang bisa jadi ahli di feed kita. Ketika semua suara dianggap setara, maka suara yang paling keras dan paling percaya diri yang menang, bukan yang paling berilmu.
Ketiga, Ego yang Ingin Dibenarkan. Post Truth memberi hadiah yang manis: “Kamu benar. Kamu korban. Yang salah adalah mereka.” Siapa yang bisa menolak hadiah itu? Kita jadi alergi pada informasi yang menantang keyakinan kita.
Cara Melawan: Membangun Imunitas
Melawan hegemoni Post Truth tidak butuh teknologi canggih. Ia butuh disiplin berpikir. Ada tiga filter sederhana yang bisa kita latih.
Filter Pertama: Logika. Gunakan rumus dasar: “Jika terlalu bagus untuk jadi kenyataan, maka itu bohong.” Sembuh 3 hari? Kaya 1 bulan? Paham agama tanpa belajar? Itu alarm merah. Kebenaran sejati jarang instan.
Filter Kedua: Otoritas. Lihat jejak, bukan jubah. Produk herbal, cek izin BPOM-nya. Kelas kaya cepat, cek rekam jejak bisnis nyatanya. Tokoh agama, tanya sanad dan gurunya siapa, kitab apa yang dikaji. Tanpa jejak yang jelas, jangan percaya.
Filter Ketiga: Emosi. Penipu selalu main di emosi panik dan takut ketinggalan. Maka latih jeda. Aturan 3×24 jam: sebelum transfer uang, sebelum share berita, sebelum ikut gerakan, beri jeda tiga hari. Emosi akan turun, dan akal sehat punya ruang untuk bekerja kembali.
Penutup: Memilih Pulang ke Kebenaran
Hegemoni Post Truth adalah krisis peradaban yang halus. Ia tidak menghancurkan dengan bom, tapi dengan keraguan. Ia membuat kita tidak percaya pada fakta, tidak percaya pada ahli, dan lama-lama tidak percaya pada diri sendiri.
Penawarnya hanya satu: keberanian untuk memeriksa diri kembali dgn rendah hati secara intelektual, yg jujur dan kritis. Mengakui bahwa saya bisa salah. Mau memeriksa. Mau bersusah payah mencari kebenaran, bukan hanya yang membenarkan saya.
Karena di akhir, sebuah masyarakat hanya bisa bertahan jika ia masih punya satu tanah pijakan bersama yang disebut “fakta”. Jika tanah itu hilang, maka yang tersisa hanyalah kebisingan yg menggalau- bingungkan, penuh ketidakpastian. Dan kebisingan itu tidak bisa membangun peradaban yg harmonis.


