Oleh: Tim NutriCycle – Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Aceh
Anemia pada remaja, terutama remaja putri, masih menjadi persoalan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Aceh dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025, prevalensi anemia pada remaja putri di Aceh mencapai 32,7 persen. Angka tersebut jauh di atas ambang batas masalah kesehatan masyarakat yang ditetapkan sebesar 20 persen.
Anemia tidak hanya menurunkan daya tahan tubuh, tetapi juga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, proses belajar, dan prestasi akademik. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menimbulkan berbagai komplikasi ketika remaja memasuki usia reproduksi. Di tengah masih terbatasnya akses terhadap pangan bergizi serta kebiasaan konsumsi yang belum sepenuhnya sehat, dibutuhkan upaya pencegahan yang mudah dijangkau, kreatif, dan memanfaatkan potensi lokal.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim NutriCycle dari Poltekkes Kemenkes Aceh mengembangkan Semprong FeLeaf, inovasi pangan fungsional berbahan dasar kue semprong yang sudah akrab di tengah masyarakat Aceh. Produk ini diperkaya dengan daun kelor yang kaya zat besi, serta memanfaatkan ampas tahu dan ampas tebu yang selama ini lebih sering dianggap sebagai limbah, padahal masih mengandung protein, serat, dan antioksidan.
Pemanfaatan bahan-bahan tersebut tidak hanya meningkatkan nilai gizi produk, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular dan pengurangan limbah pangan. Berdasarkan hasil uji kandungan awal, setiap 100 gram Semprong FeLeaf mengandung sekitar 6,2 miligram zat besi atau sekitar 44 persen dari kebutuhan harian zat besi bagi remaja.
Pengembangan produk ini juga disertai kegiatan edukasi kepada masyarakat. Pada 25 Juni 2026, Tim NutriCycle menggelar pengabdian masyarakat di SMA Negeri 2 Unggul Ali Hasjmy, Kabupaten Aceh Besar. Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan edukasi mengenai bahaya anemia, pentingnya pola makan bergizi seimbang, serta kesempatan mencicipi Semprong FeLeaf sebagai alternatif camilan sehat.
Antusiasme para pelajar dan tenaga pendidik menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang dikemas melalui produk pangan lokal mampu menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga status gizi sejak usia remaja.
Kegiatan tersebut kemudian berlanjut pada Car Free Day Banda Aceh yang digelar pada 28 Juni 2026. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat mengenal Semprong FeLeaf secara langsung, mencicipi produknya, sekaligus memperoleh informasi mengenai kandungan gizi dan proses pembuatannya. Selain memperkenalkan produk, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa bahan-bahan lokal, termasuk hasil samping pertanian dan industri pangan, masih memiliki nilai ekonomi dan gizi apabila diolah secara tepat.
Semprong FeLeaf menjadi contoh bahwa persoalan kesehatan dapat dijawab melalui inovasi yang lahir dari potensi daerah sendiri. Produk ini bukan hanya hasil kreativitas mahasiswa, tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap peningkatan gizi masyarakat dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah menjaga keberlanjutan inovasi ini agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Penyempurnaan produk, peningkatan kapasitas produksi, serta dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor penting agar Semprong FeLeaf dapat berkembang sebagai salah satu solusi lokal dalam mendukung perbaikan gizi masyarakat Aceh.


