Oleh: Mahbub Fauzie
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan, Mantan Aktivis Mahasiswa 1998, ASN Kemenag di KUA Atu Lintang, Aceh Tengah
Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh, yang tercatat tanggal 2 September bukan sekadar seremoni tahunan untuk memperingati sejarah. Di dalam kata “Hardikda” terkandung ruh perjuangan, harga diri, dan cita-cita luhur para pendahulu yang menginginkan Aceh bangkit melalui jalur peradaban ilmu pengetahuan.
Namun, merefleksikan Hardikda hari ini menuntut kita untuk berani menatap cermin realitas empiris: sejauh mana ruh semangat itu masih hidup di tengah dinamika sosial-politik dan fenomena akhlak generasi muda Aceh saat ini?
๐๐จ๐ง๐ญ๐ซ๐๐ฌ ๐๐จ๐ฌ๐ข๐๐ฅ-๐๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค
Secara geopolitik dan ekonomi, Aceh telah melewati fase transisi pasca-konflik dan tsunami yang panjang. Kehadiran dana Otonomi Khusus (Otsus) selama bertahun-tahun seharusnya menempatkan Aceh di puncak prestasi pendidikan nasional.
Namun, realitas menunjukkan disparitas yang masih nyata. Anggaran besar kerap kali terjebak dalam pusaran birokrasi dan orientasi proyek fisik, ketimbang menyentuh substansi peningkatan mutu guru, kurikulum lokal yang adaptif, serta fasilitas pendidikan di pelosok daerah, seperti di pedalaman Aceh Tengah.
Kondisi sosial-politik yang kadang tidak stabil dan pragmatis ikut memengaruhi atmosfer pendidikan. Ketika panggung publik lebih sering riuh oleh kontestasi kekuasaan ketimbang adu gagasan tentang masa depan literasi, dunia pendidikan kehilangan kompas pengarahnya. Nilai-nilai keteladanan dari para pemangku kebijakan menjadi barang mahal yang dirindukan oleh generasi muda.
๐๐๐ ๐ซ๐๐๐๐ฌ๐ข ๐๐ค๐ก๐ฅ๐๐ค ๐๐๐ง๐๐ซ๐๐ฌ๐ข ๐๐ฎ๐๐
Sebagai mantan aktivis mahasiswa tahun 1998, saya melihat ada pergeseran paradigma dan penurunan nilai moralitas yang sangat mencolok pada lanskap gerakan serta mentalitas pelajar Aceh hari ini. Generasi muda Aceh saat ini adalah digital natives yang hidup di era disrupsi teknologi.
Di satu sisi, banyak talenta muda kita yang mampu mengukir prestasi teknologi dan bisnis digital. Namun, di sisi lain, kita tidak boleh menutup mata terhadap fenomena degradasi akhlak yang kian mengkhawatirkan.
Sopan santun (ta’dzim) yang dulu menjadi ciri khas pelajar Aceh kini kian terkikis. Maraknya kecanduan judi daring, ketergantungan pada game online, paparan pornografi, hingga keterlibatan dalam tawuran dan penyalahgunaan narkoba adalah potret buram krisis moral di lapangan. Ruang digital yang melimpah informasi sering kali disalahgunakan akibat lemahnya filter keimanan dan ketajaman literasi.
Jika mahasiswa tahun ’98 turun ke jalan didorong oleh akhlak perjuangan dan idealisme moral untuk melawan ketidakadilan struktural, sebagian generasi muda hari ini justru rentan terjebak dalam sikap apatis, pragmatisme akut, dan budaya instan akibat pengaruh media sosial.
Hilangnya rasa malu dan runtuhnya etika berkomunikasi di dunia maya mempertegas bahwa dunia pendidikan kita sedang menghadapi tantangan spiritual yang luar biasa besar. Fenomena ini menjadi “lampu kuning” bagi masa depan Serambi Mekkah.
๐๐๐ซ๐๐ฏ๐ข๐ญ๐๐ฅ๐ข๐ฌ๐๐ฌ๐ข ๐๐๐ซ๐๐ค๐๐ง
Mengembalikan ruh semangat Hardikda di era modern ini membutuhkan rekonstruksi total pada tiga pilar utama:
Pertama, Karakter Khazanah Lokal
Pendidikan di Aceh tidak boleh hanya mengejar angka kelulusan kognitif secara formalitas. Sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam, nilai-nilai moralitas, akhlakul karimah, dan integritas harus menjadi fondasi utama pembelajaran, baik di sekolah umum, madrasah, maupun dayah. Kurikulum harus mampu melahirkan generasi yang cerdas otaknya sekaligus mulia akhlaknya.
Kedua, Sinergi Lintas Sektoral
Masalah akhlak pemuda bukan hanya tugas dinas pendidikan semata. Institusi keagamaan, sosial, dan aparat penegak hukum harus bersinergi. Kami di KUA, misalnya, terus berupaya membentengi generasi muda melalui bimbingan remaja usia sekolah untuk mencegah pernikahan dini akibat pergaulan bebas dan perilaku menyimpang.
Ketiga, Keteladanan Elite
Generasi muda membutuhkan figur percontohan. Jika para pimpinan daerah dan tokoh masyarakat mampu menampilkan politik yang bersih, berintegritas, dan peduli pada substansi pendidikan, maka pemuda akan terinspirasi untuk kembali ke jalur idealisme yang positif.
Hardikda harus menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat Aceh untuk melakukan refleksi dan aksi nyata. Mari kita bawa kembali semangat literasi, budaya membaca, dan ketajaman berpikir kritis ke ruang-ruang kelas dan warung-warung kopi tempat pemuda berkumpul.
Pendidikan adalah satu-satunya senjata paling ampuh untuk mengubah nasib sebuah bangsa. Jangan biarkan ruh Hardikda redup di tengah gemerlapnya dunia digital dan pragmatisme politik. Aceh mulia dengan ilmu, Aceh jaya dengan karakter generasi mudanya.[]


