Politik Harapan dan Etika Kepedulian; Kado untuk Anggota Legislatif Baru Aceh

Tanggal 30 Sepetember 2014 lalu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh baru telah dilantik, ada wajah lama dan ada wajah baru disana. Setiap sebuah pergantian, biasanya menerbitkan juga harapan baru. Tetapi dari harapan baru ini, memunculkan juga petanyaan penting, tindakan revolusioner bagaimana yang bisa membuat anggota anggota legislatif baru ini benar-benar berbeda dengan performa anggota legislatif sebelumnya (2009-2014) ?. Karena jika tidak ada yang berbeda, berarti sama saja, tidak ada yang bisa diharapkan jika performa anggota legislatif baru juga seperti itu

Pemikiran revolusioner, yang melompati segala realitas, tindakan revolusioner yang menerjang segala protokoler yang menghambat pembangunan kesejahteraan dan paradigma serta fashion yang menyatu dengan eksistensi rakyat adalah syarat mutlak bagi anggota legislatif baru 2014 2019, kami hanya bisa mengatakan satu hal, ini adalah kesempatan berharga bagi anda untuk melakukan sebuah pekerjaan yang akan dikenang oleh bergenerasi-generasi rakyat Aceh, terutama terkait tiga turunan UUPA yang belum direalisasikan oleh pemerintah pusat, tapi dengan satu syarat mutlak, yaitu menjembatani apa hubungan antara tiga turunan UUPA tersebut dengan kesejahteraan rakyat Aceh.

Politik Harapan

Politik harapan dalam makna hakikatnya adalah sebuah visi politik yang ditopang oleh keyakinan yang kuat bahwa masa depan dapat lebih baik dan karenanya sebagai individu maupun komunitas, kita mempunyai sebuah kekuatan untuk mengubah sesuatu dan melakukan atau membuat perubahan revolusioner itu sekarang. politik harapan pada dasarnya adalah juga sebuah kekuatan yang bisa menjadi mesin penggerak bagi terwujudnya perubahan-perubahan sosial. Politik harapan memampukan individu dan kelompok memulai upaya mencapai sebuah tujuan yang barangkali tingkat keberhasilannya masih jauh dari kepastian. Setidaknya, ia memberikan kita keteguhan hati dalam menghadapi pesimisme atau kemunduran yang bisa membuat kita kehilangan semangat.

Realitas saat ini semua berada pada titik nadir, jika melihat semua tingkah polah para elit politik dari segala penjuru negeri. Politik kembali menjadi sesuatu yang paling sulit dipercayai yang bisa membawa perubahan-perubahan revolusioner, terutama bagi kesejahteraan rakyat. Kondisi ini harus dibaca sebagai sebuah pekerjaan rumah besar bagi anggota legislatif baru Aceh bahwa keberadaan anggota legislatif baru Aceh ini harus merubah kekecewaan dan apatisme tersebut menjadi sebuah harapan baru, bahwa dengan eksistensi anda diparlemen anda bisa bersuara dengan lantang dan penuh tanggung jawab bahwa, dalam periode lima tahun kedepan kami akan membuat politik bisa menjadi harapan, untuk menyelesaikan segala sengkarut penghambat kesejahteraan rakyat.

Politik yang ditampilkan oleh para politisi kita selama ini, terutama anggota legislatif rupanya lebih merupakan kerja atau aktivitas, bukan tindakan. Karena itu dalam eksistensi anggota legislatif baru Aceh ini, maka yang harus dilakukan bukanlah kerja-kerja seperti biasa,atau kerja-kerja seperti yang dilakukan pada periode sebelumnya, tetapi sebuah tindakan, tindakan yang benar-benar revolusioner. Ini seperti digambarkan oleh Hannah Arendt, seorang pemikir perempuan yang berbicara banyak tentang politik harapan. Merujuk pada gagasan Arendt (seperti diuraikan James M Campbell, Hannah Arendt [1906-1975]: Prophet for Our Time, 1970), politik dimaknai sebagai tindakan, bukan sebagai kerja ataupun karya. Kerja adalah aktivitas yang sesuai dengan alam, semata-mata mempertahankan kehidupan. Karya adalah aktivitas manusia di dunia untuk menghasilkan benda-benda. Tindakan berbeda dari keduanya. Tindakan dijalankan dengan kata-kata dan perbuatan. Di point terkahir inilah eksistensi anggota DPR Aceh baru bisa mempraktekkan politik adalah harapan.

Etika Kepedulian

Etika kepedulian dicetuskan oleh Iris Murdoch, seorang psikolog perempuan yang mengkritik etika Immanuel Kant dan pasca Immanuel Kant. Etika kepedulian ini adalah sesuatu yang sangat mendesak bagi Aceh, dan anggota legislatif yang baru adalah elemen yang sangat cocok untuk mempraktekkan etika kepedulian ini. Etika kepedulian merupakan moral tertinggi bagi seorang anggota legislatif baru Aceh. Etika ini penting untuk dijadikan indikator menilai tindakan anggota legislatif baru Aceh.

Pertanyaan penting dalam etika adalah, apa yang memotivasi seseorang untuk bertindak ?. dalam kaitannya dengan anggota legislatif baru, maka pertanyaan yang dapat kita tanyakan adalah apa yang memotivasi anggota legislatif baru bertindak ?. Jika yang memotivasi mereka adalah untuk kepentingan diri sendiri, maka ini seperti anak kecil (bayi) bahwa yang baik adalah yang member nikmat, yang tidak baik yang tidak memberi nikmat, mereka hanya bertindak berdasarkan apa yang bisa menyenangkan mereka saja dan tidak mau bertindak jika tidak menguntungkan mereka.

Tahapan berikutnya adalah tahapan moral yang mulai melihat kepentingan sendiri yang berhadapan dengan kepentingan orang lain, bahwa ada kepentingan orang lain dibalik tindakan saya. Artinya, anggota legislatif baru akan mencari nikmat dan keuntungan dengan cara yang tidak merugikan orang lain, sama-sama beruntung (win-win solution), tetapi tahapan ini belum disebut etika (moral, tapi hanya pertimbangan kepentingan saja. Tahap berikutnya adalah yang baik tidak lagi yang memberi nikmat, tetapi apabila dipuji orang, bertindak jika dipuji, artinya anggota legislatif baru akan bertindak apabila diminta (tanpa inisiatif bertindak dari anggota DPRA sendiri).

Tahapan paling tinggi dan paling penting bagi seorang anggota legislatif baru adalah bertindak berdasarkan prinsip-prinsip etis, yang menjadi asas utama disini adalah keadilan. Anggota legislatif baru akan melakukan segala sesuatu tindakan berdasarkan prinsip keadilan, melakukan apa yang benar, bukan apa yang menguntungkan, apa yang menyenangkan dan bukan berdasarkan asal dipuji, bukan lagi sesuai dengan kepentingan sendiri dan kepentingan kelompok. Dalam etika seperti inilah anggota legisalatif baru Aceh dibutuhkan. Tindakan ini akan bisa dilakukan oleh anggota legsilatif baru apabila membuka mata untuk melihat realitas secara adil dan positif. Inilah tahapan etika yang disebut etika kepedulian, peduli pada realitas dan melakukan tindakan revolusioner berdasarkan prinsip kebaikan, kebaikan disini adalah sesuatu yang berdampak luas, seperti kesejahteraan dan kemakmuran. Dalam kerja anggota DPR Aceh baru, kita akan dapat melihat tindakan mereka berdasarkan tingkatan etika diatas, ini sangat penting sebagai sebuah alat kontrol, karena selama ini anggota legislatif banyak menguras energi mengurus persoalan moral, dan kali ini kita kawal mereka dengan prinsip etika kepedulian ini.

Akhirnya, walaupun kita punya harapan besar kepada mereka, namun sebagai rakyat kita juga tetap harus melakukan gerakan politik sendiri, karena pemegang harapan sebenarnya adalah kita.Kita tidak bisa begitu saja percaya pada anggota legislatif baru tersebut. Selamat bekerja kepada anggota legislatif baru, tetapi ingat satu hal: amanah adalah tanggung jawab moral, yang harus diwujudkan dengan tindakan politik pro rakyat yang revolusioner.

Email : filosofdunai@gmail.com Manager Advokasi dan Jaringan The Aceh Institute Ketua Forum Islam Rahmatan Lil’alamin (FIRL). Alumnus Pemikiran Islam PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org