Rayeuk Lam Prang

Cerita tentang konflik sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Aceh. Bahkan seluruh dunia tahu tentang konflik yang pernah terjadi di Aceh beberapa tahun silam. Konflik tersebut telah memakan banyak korban, jiwa dan harta. Alhamdulillah, tepat pada tanggal 15 Agustus 2005 pemerintah RI dan GAM sudah melakukan penandatangan perjanjian damai di Helsinki yang mengakhiri 29 tahun konflik Aceh (1976 – 2005).

Konflik yang terjadi beberapa tahun silam ternyata masih menyisahkan luka bagi para korban. Salah satunya seorang mahasiswa berinisal MHS (23), kelahiran Lhoksemawe. Dalam percakapan singkat kami, MHS menceritakan pengalamannya dulu ketika terjadinya konflik.

“Pada waktu itu saya baru beranjak kelas satu SD (Sekolah Dasar). Semua aktivitas yang saya lakukan begitu terganggu dengan suara tam tum (suara tembakan). Bahkan ketika kami sedang belajar kami harus pulang dan berjalan dengan terbirit-birit (buru-buru) merasa ketakutan dengan adanya suara-suara tembakan. Serasa suara tembakan itu menjadi penghalang untuk saya beraktivitas, saya ditakuti oleh suara-suara tam tum. Sekolah tempat saya menuntut ilmu di bakar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan terpaksa proses pembelajarannya diliburkan untuk sementara. Orang tua saya pernah di bentak oleh aparat TNI karena dicurigai sebagai tangan kanan GAM, dan tepatnya di depan rumah saya itu tempat tinggal anggota GAM. Tepat di tengah malam sejumlah oknum yang tidak dikenal mendatangi rumah tersebut dan langsung menyeret beberapa penghuninya keluar, tidak lama kemudian anggota GAM itu di tembak oleh aparat TNI dan mayatnya dibiarkan di jalan. Dan setelah kejadian penembakan itu terdengar lagi suara tembakan dari seberang dan keesokan harinya rupanya sudah ada lagi mayat-mayat yang dibiarkan tergeletak di jalan. Tidak sampai disitu saja oknum-oknum itu juga mendatangi rumah dan mengobrak abrik isi rumah saya, semuanya jadi berantakan bagai tidak ada penghuni.

Datang seorang tetangga ke rumah saya dan ia berkeluh kesah bahwa anaknya telah dibunuh oleh aparat TNI. Tidak punya prikemanusiaan memang. Seorang anak dibunuh di depan Ibunya. Sedangkan ibunya tidak bisa bebrbuat apa-apa. Saya merasa sangat ketakutan jika saya kehilangan keluarga saya. Seperti yang dirasakan oleh tetangga saya itu.

Kemudian MHS melanjutkan ceritanya “Hingga sekarang masih ada tetangga-tetangganya yang belum mendapatkan perhatian dari pemerintah setelah suami mereka dibunuh oleh oknum-oknum yang tidak bertanggangung jawab, hingga melahirkan generasi-genarasi yatim piatu yang tidak disantuni. MHS mengatakan bahwa meskipun adanya bantuan namun belum memadai untuk mencukupi kebutuhan keluarga korban, bahkan ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kejadian tersebut.

MHS berharap semoga pemerintah memberi perhatian khusus kepada para korban konflik, dimana para korban merasakan serba kekurangan. Apalagi para janda yang ditinggal oleh suaminya tidak tahu harus berharap kepada siapa lagi. Juga kepada panglima yang sekarang sudah memiliki jabatan tinggi, jangan pernah melupakan janji-janjinya dulu, dan untuk tidak pura-pura hilang ingatan terhadap sejarah puluhan tahun silam yang memakan banyak korban.

Siti Zulaikha [Mahasiswa Fakultas Psikologi, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh]

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: info@acehinstitute.org