Kertas Minyak

Kertas minyak kan tidak harus untuk layangan. Untuk bungkusan kue kering kan juga bisa.

Jadi mau jualan kue ya? Bagus juga sih. Sambil menunggu waktu berbuka puasa kita bisa jualan kue di mobil. Tinggal kita pilih aja lokasi yang mudah di jangkau banyak orang. Tapi, tunggu dulu. Kok kertasnya warna warni? Putih, merah, kuning, hijau, biru.

Ia ni. Apa akan ada banyak kue yang mau dibungkus pakai kertas minyak?

Atau, jangan-jangan ini strategi? Biar bisa menarik banyak pembeli?

Betul, betul, betul hehehe. kan umumnya orang sudah teridentifikasi ke dalam partai tertentu. Jadi membungkus kue dengan warna tertentu akan menarik minat mereka untuk membeli kue kita.

Ah, itu spekulatif sekali. Tapi ini bukan untuk kue kok.

Jadi???!!!

Bulan ramadhan ini kan anak-anak kecil pada liburan sekolah. Biasanya kalau libur sekolah maka belajar pun ikut libur. Daripada mereka nonton acara televisi yang kerap menyesatkan mending mereka main dengan kertas minyak saja.

No, no, no. Hankeumah. Itu buat sampah saja.

Satu dua kertas di potong. Ujung-ujungnya jadi sampah dong. Bagaimana? Betulkan?

Betul betul betul hehehe.

Duhh, kok pada jadi pemeran di film kartun upin ipin ya?

Habissssss.

Begini. Dengan kertas minyak ini anak-anak kecil bisa diajak berkreatifitas di musim libur sekolah. Dengan kertas minyak kita bisa mengajak mereka belajar membuat bendera..

Ohhhh jadi mau buat bendera toh. Bilang kek dari tadi.

Ia ya. Inikan bulan Agustus. Ada tujuhbelasan. Kalau 17-an ya pasti akan banyak bendera. Jadi kebayang cerita lama kalau dulu setiap 17-an ada banyak bendera yang terbuat dari kertas minyak yang tergantung dari satu toko ke toko lainnya.

Nah, itu dia. Tapi ini bukan sekedar bendera untuk menyambut hari Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2010 ini. Ada juga 15 Agustus. Hari MoU Helsinki ini juga penting karena hari itu juga dikenal sebagai hari perdamaian Aceh.

Jadi kertas minyak warna-warni ini mau dibuat jadi bendera untuk digantung guna memperingati hari perdamaian Aceh dan hari Kemerdekaan RI?

Betul betul betul hahaha. Jadi ke ikut upin ipin juga ni hehehe.

Jadi ceritanya mau memanfaatkan bulan puasa ini sebagai momentum menanam sejak dini semangat perdamaian dan kemerdekaan kepada anak-anak ya?

Setuju. Anak-anak memang sudah harus dipupuk semangat perdamaian agar ke depan tidak mudah terikut arus politik orang dewasa yang sekarang masih saja mudah meletupkan konflik hanya dengan kasus sepele. Apalagi jika sudah menyangkut kepentingan kekuasanaan. Ada saja pesan provokasi yang mengalir dalam wujud perkataan dan aksi.

Betul. Aceh memang banyak masalah. Toh dari dulu juga tidak kurang masalahnya. Tapi kenapa sampai kini Aceh masih tetap bertahan dan tidak hancur padahal masalah superberatpun sudah pernah melanda Aceh. Pasti ini karena Aceh juga mengandung spirit positif juga. Jadi nggak sepenuhnya Aceh berisi spirit negatif yang ujung-ujungnya membawa kehancuran.

Itukan yang disebut spirit apresiatif. Setiap orang memiliki potensi yang unik pada diri masing-masing yang bila diapresiasi ia bisa menjadi energi yang membangun.

Nah, itu dia. Bulan ramadhan ini Aceh beruntung. Kita tidak hanya mendapat nikmat berpuasa tapi juga mendapat nikmat perdamaian dan kemerdekaan.

Tapi gimana dengan mereka yang masih belum juga sadar. Tu lihat pemimpin kita yang belum juga berhasil melakukan sesuatu yang membanggakan kita sebagai aneuk nanggroe?

Loh, itukan bukan salah mereka. Pemimpin di pusat itu yang tidak cukup akomodatf terkait kebijakan dan anggaran.

Loh kok jadi pada saling menyalahkan ni? Mereka boleh jadi salah tapi kita juga ikut salah kala kita hanya bisa menyalahkan. Ayo kita melakukan sesuatu yang siapa tahu dengan melakukan sesuatu itu bisa menjadi spirit bagi siapa saja untuk juga melakukan sesuatu. Jadi indahkan jika apa yang orang lain lakukan juga menjadi spirit bagi kita.

Oke deh. Ayo kita lipat, gunting, dan temple kertas minyak ini bersama-sama.

Betoi betoi betoi hehehe

Leave a Reply

Alamat

Jln. Lingkar Kampus, Pertokoan Limpok Kav. II (Belakang Fakultas Kedokteran Unsyiah) Desa Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia

Email: theacehinstitute@gmail.com